
MENGULAR DI ATM: Ratusan orang berbondong-bondong menarik tabungannya dari bank.
JawaPos.com – Penduduk India berang karena kehabisan uang. Itu terjadi setelah pemerintah menyatakan bahwa uang kertas pecahan 500 dan 1.000 rupee tidak berlaku lagi pada Selasa (8/11).
Padahal, keduanya merupakan lembaran uang yang paling banyak digunakan untuk transaksi sehari-hari. Pemerintah sudah menyiapkan uang baru lewat ATM atau bank. Namun, jumlahnya terbatas. Antrean pun mengular di mana-mana.
Perdana Menteri (PM) Narendra Modi menuturkan, kebijakan itu bertujuan melacak penggelapan pajak. Orang-orang kaya cenderung menyimpan uangnya secara tunai. Karena uang mereka tidak terdeteksi bank, mereka bisa menghindari pajak. Apalagi, penduduk India pada umumnya bekerja di sektor informal dan mendapatkan gaji secara tunai sehingga sulit terdeteksi.
Jika pecahan 500 dan 1.000 rupee tidak berlaku, mereka yang menyimpan uang tersebut harus menukarnya ke bank. Nah, saat menukar itulah, akan terlihat siapa saja yang mempunyai banyak uang. Mereka akan langsung diinvestigasi petugas pajak.
Sayangnya, persiapan untuk program tersebut tampaknya kurang matang. ’’Ada kericuhan di mana-mana,’’ ujar Kepala Menteri (setara gubernur, Red) Delhi Arvind Kejriwal. Salah satunya, di cabang bank Standard Chartered di Delhi. Warga yang mengantre marah, beradu argumen dengan petugas keamanan, serta memukul pintu kaca bank itu.
Penduduk pantas marah. Sebab, separo dari 202 ribu mesin ATM di India tidak berfungsi. Mesin ATM yang bisa mengeluarkan pecahan uang baru dengan cepat diserbu penduduk dan langsung kosong. Sementara itu, untuk menukar uang di bank, mereka harus mengantre selama berjam-jam.
Uang untuk kebutuhan sehari-hari mulai menipis. Beberapa pasien di rumah sakit membayar layanan dengan uang recehan. Pedagang mau menerima uang pecahan lama, tetapi harga barang akan dinaikkan berkali-kali lipat. Pasar buah dan sayur di berbagai tempat pun berencana tutup untuk sementara hingga situasi stabil.
Modi yakin kebijakannya sudah benar. Dia tahu penduduk mengalami kesulitan dalam transisi tersebut. Namun, dia yakin mereka mendukung keputusannya untuk berperang melawan korupsi.
Modi menegaskan akan mengejar para pelaku penggelapan pajak dan korupsi meski harus memeriksa lagi catatan pengemplang pajak yang berusia puluhan tahun. ’’Jika diperlukan, saya akan menyewa orang untuk tugas itu,’’ ungkapnya saat berada di Kobe, Jepang. (Reuters/sha/c20/any)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
