Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 April 2021 | 22.28 WIB

Diplomasi Keras Xi Jinping Disebut Picu Tiongkok dalam Bahaya Politik

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Diplomasi keras yang diterapkan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dinilai akan berujung tragedi dan menjerumuskan negara itu dalam bahaya politik. Hal itu terkait dengan sejumlah masalah. Di antaranya ketegangan dengan AS, Xinjiang, Hongkong, dan Taiwan.

Dampak terkait sikap keras Tiongkok pada AS akan mempercepat pembentukan aliansi anti-Tiongkok' hanya dalam dua bulan setelah kepresidenan Joe Biden. Hal itu diungkapkan pakar kebijakan di Taiwan dan Beijing. Pernyataan itu menyusul ketika Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken dan Direktur Urusan Luar Negeri Tiongkok, Yang Jiechi terlibat dalam perdebatan yang disiarkan televisi mengenai garis merah negara masing-masing.

"Sikap yang bangga dan melontarkan retorika dari kedua sisi," kata seorang profesor urusan militer Tiongkok di Universitas Pertahanan Nasional di Taiwan, Ma Chen-kun, seperti dilansir News Week.

Perdebatan dengan Blinken yang berapi-api dianggap telah memicu gelombang nasionalisme dan patriotisme dikhawatirkan berujung pada militer Tiongkok. Ma bicara dalam diskusi kebijakan luar negeri AS yang diselenggarakan oleh Think Tank Prospect Foundation Taipei.

Setelah agenda dialog AS-Tiongkok, Blinken kemudian terbang ke Brussel untuk duduk bersama para pemimpin Eropa. Yang terjadi selanjutnya adalah serangkaian komitmen oleh Inggris, Prancis, dan Jerman untuk mengirim kapal perang ke Indo-Pasifik.

"Tiongkok harus menganggap perkembangan terakhir sebagai peringatan," kata Ma.

"Penekanan Yang Jiechi terkait martabat nasional Tiongkok itu mengikuti logika yang sama dari para pejabat di akhir Dinasti Qing. Itu akan menjerumuskan Tiongkok ke dalam bahaya politik internasional," kata Ma.

Seorang sarjana veteran di Universitas Renmin Beijing yang juga penasihat pemerintah Tiongkok, Shi Yinhong, mengungkapkan keprihatinan yang lebih halus tentang diplomasi 'Prajurit Serigala' Tiongkok. Profesor tersebut mencatat adanya kemajuan pesat dari kebijakan Presiden Biden di Tiongkok dan pembentukan aliansi strategis yang dikenal sebagai Dialog Keamanan Segi Empat yang melibatkan AS, Jepang, Australia, dan India.

Latihan angkatan laut yang melibatkan Quad dan dipimpin oleh Prancis berakhir di Teluk Benggala pada Rabu (7/4). "Tiongkok saat ini menunjukkan kebijakan luar negeri yang belum pernah dilihat Barat sebelumnya. Kebijakan itu menarik garis sangat keras," kata Shi.

"Masih harus dilihat apakah ini berlanjut. Jika kebijakan luar negeri Tiongkok di masa depan dipandang lebih lembut di mata Barat, konfrontasi antara aliansi AS-Eropa dan Tiongkok mungkin tidak seserius sekarang," jelas Shi.

"Diplomasi Tiongkok selalu sejajar, apakah itu di bawah Mao Zedong, Deng Xiaoping, atau lainnya. Tiongkok tidak pernah tunduk. Termasuk Xinjiang, Hongkong dan Taiwan, Tiongkok saat ini memiliki posisi garis keras dalam semua masalah ini. Sementara masyarakat Barat bersikeras untuk menangani semuanya," katanya dalam bukunya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=1fEW5abQG3U

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore