Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 Juni 2018 | 21.45 WIB

Resmi Boleh Mengemudi, Perempuan Arab Tak Sabar Nyetir ke Kantor

Perempuan Arab Saudi sudah boleh mengemudi - Image

Perempuan Arab Saudi sudah boleh mengemudi

JawaPos.com - Hari ini pemerintah Arab Saudi resmi mencabut larangan perempuan mengemudi yang diterapkan sejak 1957. Tapi, izin dari suami, ayah, paman, atau saudara laki-laki bisa jadi halangan.


Salma Youssef tak sabar menanti hari ini (24/6) tiba. Sebab, hari ini adalah hari bersejarah bagi dirinya dan seluruh perempuan Arab Saudi. Larangan mengemudi untuk para perempuan yang diterapkan selama lebih dari enam dekade bakal resmi dicabut.


Youssef sudah lulus ujian mengemudi pekan lalu dan mendapatkan SIM. Dia tak sabar untuk bisa berkendara sendiri ke tempat kerjanya. Juga, mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. "Ini akan mengubah saya, mengubah keluarga saya. Ini adalah sebuah kebebasan," tegasnya.


Khusus untuk belajar mengemudi dan memperoleh SIM, perempuan Saudi tak perlu izin dari walinya. Di negara penjaga dua situs suci umat muslim itu, aturan penjagaan perempuan oleh walinya masih diberlakukan dengan ketat.


Perempuan yang pergi ke luar rumah, ke luar negeri, menikah, berobat, dan melakukan berbagai hal lainnya harus atas izin ataupun didampingi wali. Yaitu, ayah, suami, saudara laki-laki, maupun paman.


Aturan itu pula yang diperkirakan masih akan menjadi penghalang bagi perempuan untuk mengemudi. Meski telah memiliki SIM, jika walinya tak mengizinkan, semua percuma saja.


Ada beberapa alasan yang membuat para pria yang menjadi wali tak mengizinkan perempuan di bawah penjagaan mereka untuk mengemudi. Mulai takut terjadi pelecehan seksual hingga kecelakaan.


Alanoud Hakami contohnya. Perempuan 22 tahun yang tinggal di Jeddah itu tidak berencana belajar mengemudi dan memiliki SIM. Sebab, suami dan ayahnya memperingatkan kemungkinan terjadi pelecehan.


"Saya tak ingin mengemudi karena pemuda Saudi tidak sopan. Situasinya tidak seperti di luar negeri," ujar perempuan yang bekerja sebagai sales tas itu sebagaimana dilansir The Wall Street Journal.


Berdasar survei yang dilakukan Saudi National Center for Public Opinion Polls Maret lalu, sebanyak 61 persen perempuan ingin mengemudi. Untuk mereka yang tidak mau, 41 persen beralasan karena takut terjadi kecelakaan dan 27 persen takut dilecehkan para pria. Saudi sudah mengesahkan UU Anti Pelecehan yang berlaku mulai bulan ini.


Banyak perempuan yang masih merasa tak aman. Tapi, banyak pula yang merasa yakin bahwa UU Anti Pelecehan itu bakal banyak berperan.


Memang masih banyak laki-laki Saudi yang tak setuju dengan pencabutan larangan mengemudi itu. September tahun lalu, ketika pemerintah mengumumkan larangan mengemudi bakal dicabut, banyak pria yang bereaksi.


Salah satunya ditangkap karena mengunggah video yang di dalamnya berisi ancaman bakal membakar pengemudi perempuan beserta mobil yang dikendarainya. Tagar yang artinya #kamu tidakakanmengemudi bertebaran di Twitter.


Kelompok perempuan membalas dengan pernyataan bahwa mereka akan mengemudi dengan mengunggah foto mereka. Disertai buku panduan di sekolah mengemudi. "Saya ingin mandiri, saya ingin mengemudi. Saya tidak mau hidup di bawah belas kasihan pria," tegas Ghadir alMezeni yang suaminya sempat menentang ide perempuan mengemudi sendiri.


Pebisnis asal Jeddah Abu Mohammed mengungkapkan, dirinya hanya akan mengizinkan istri ataupun anak perempuannya mengemudi untuk situasi darurat. Dia memprediksi bakal terjadi kekacauan besar-besaran di jalanan Saudi saat perempuan diizinkan memegang kemudi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore