Larry Ellison, pendiri Oracle, dan visi besarnya untuk memperpanjang usia (Fortune)
JawaPos.com - Di tengah gelombang kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, dan geopolitik yang bergejolak, Larry Ellison memilih medan pertaruhan yang lebih sunyi namun jauh lebih menentukan: bagaimana umat manusia menua.
Pendiri sekaligus miliarder di balik Oracle ini tidak sekadar membicarakan perpanjangan usia, tetapi merancang ulang cara dunia memahami pekerjaan, kesehatan, dan produktivitas di era masyarakat yang semakin tua.
Taruhan Ellison relevan karena struktur demografi global sedang bergeser secara dramatis. Lebih dari seperlima populasi Uni Eropa kini berusia 65 tahun ke atas, sementara di Amerika Serikat sekitar satu dari enam orang berada dalam kelompok usia yang sama, angka yang diproyeksikan melampaui 80 juta pada 2050.
Di saat yang sama, tingkat kelahiran Eropa jatuh ke 1,38 kelahiran hidup per perempuan pada 2023, jauh di bawah ambang 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan populasi tanpa migrasi.
Dilansir dari Fortune, Rabu (4/2/2026), perubahan demografi ini bukan sekadar persoalan sosial, melainkan sebuah titik balik strategis bagi ekonomi global. Profesor Columbia Business School, Rita McGrath, menjelaskan bahwa perubahan besar jarang terjadi secara instan, melainkan bergerak perlahan sebelum akhirnya meledak.
Menurutnya, "Banyak dari kita mengalami titik balik seolah-olah semuanya berubah dalam satu momen, padahal kenyataannya perubahan itu berlangsung bertahap, lalu tiba-tiba terasa sangat nyata."
Dalam kerangka itu, isu penuaan berada pada fase "bertahap" yang bisa berubah "tiba-tiba" jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan banyak pembuat kebijakan. Beban pensiun, biaya kesehatan akut, dan menyusutnya angkatan kerja usia produktif berpotensi menekan negara, kecuali paradigma tentang usia, kerja, dan kesehatan dirombak.
Di sinilah Ellison masuk. Melalui institut risetnya di Oxford, dia menempatkan biologi generatif sebagai inti strategi, menggelontorkan ratusan juta poundsterling dari kantong pribadinya. Bagi Ellison, investasi ini bukan filantropi, melainkan visi ekonomi baru: membuat manusia hidup lebih lama dan tetap produktif.
Motivasi pribadinya terang-terangan filosofis. Ellison pernah berkata tegas, "Kematian tidak pernah masuk akal bagi saya." Pernyataan itu mencerminkan cara berpikir seorang pengusaha teknologi yang melihat batas biologis sebagai masalah teknik yang bisa direkayasa, bukan takdir yang harus diterima.
Andrew Scott, profesor ekonomi sekaligus pakar umur panjang di institut Ellison, menegaskan urgensinya dengan data yang gamblang: "Seorang anak yang lahir hari ini memiliki peluang 50 persen untuk hidup hingga usia 90 tahun."
Menurutnya, hampir seluruh pertumbuhan lapangan kerja di masa depan akan datang dari kelompok di atas 50 tahun. "Jika kita bisa mengurangi separuh laju penurunan partisipasi kerja seiring bertambahnya usia, kita akan memperoleh dorongan 4 persen terhadap PDB, itu hampir seperti makan siang gratis bagi pertumbuhan," ujarnya.
Namun, memperpanjang usia tanpa kualitas hanya memperbesar masalah. Ketua raksasa farmasi GSK, Sir Jonathan Symonds, menekankan bahwa rentang kesehatan sama pentingnya dengan rentang hidup. Di forum kebijakan di London, dia mengingatkan bahwa lebih dari 80 persen belanja kesehatan individu rata-rata terjadi pada dekade terakhir kehidupan, indikasi bahwa pencegahan jauh lebih murah daripada perawatan di ujung usia.
Di saat yang sama, jurang ketimpangan kesehatan justru semakin dalam. Rupal Kantaria dari Oliver Wyman Forum memperingatkan bahwa meski ekonomi umur panjang membuka peluang pertumbuhan baru, manfaatnya lebih banyak dinikmati kelompok kaya.
Dia menegaskan, "Ekonomi umur panjang adalah frontier pertumbuhan berikutnya, tetapi kesenjangan kesehatan berbentuk huruf K semakin melebar dan membelah masyarakat menjadi dua dunia yang berbeda." Maksudnya, kelompok berpenghasilan tinggi makin mampu berinvestasi pada pencegahan kesehatan yang mahal dan dipersonalisasi, sementara kelompok berpenghasilan rendah semakin terbebani penyakit kronis dan utang medis.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
