
Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Australia untuk bertemu PM Australia Anthony Albanese, Senin (10/11/2025). (ANTARA/Nabil Ihsan)
JawaPos.com – Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan awal tahun 2026 menjadi cermin rapuhnya tatanan dunia global. Kepentingan nasional yang sempit kian mendominasi, sementara hukum internasional yang selama ini menjadi fondasi stabilitas justru kerap disalahgunakan.
“Mengawali tahun 2026 kita diingatkan kembali betapa rapuhnya tatanan dunia saat ini. Kepentingan nasional yang sempit mengalahkan keamanan bersama. Hukum internasional yang selama ini menjadi pagar stabilitas dunia sering disalahgunakan melalui pendekatan yang bersifat ala carte,” ujar Sugiono saat menyampaikan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026, pada Rabu (14/1).
Menurut dia, ketika aturan yang telah disepakati bersama dilanggar tanpa konsekuensi yang tegas, dampaknya tidak hanya pada satu aturan semata. Lebih jauh, yang runtuh adalah kepercayaan terhadap sistem hukum internasional dan tatanan dunia itu sendiri.
“Ketika aturan yang disepakati bersama dilanggar tanpa konsekuensi, maka yang runtuh bukan hanya satu aturan, melainkan kepercayaan terhadap aturan dan seluruh tatanan itu sendiri,” tegasnya.
Sugiono menilai, pada saat yang sama, tata kelola global yang dibentuk untuk mengelola berbagai krisis dunia juga semakin tertinggal dibandingkan realitas yang berkembang cepat. Kondisi tersebut diperparah dengan sikap sejumlah negara kunci yang justru menarik diri dari tanggung jawab dalam menjaga tata kelola global.
Akibatnya, sejarah kembali berulang. Banyak negara kini bergerak dalam survival mode masing-masing demi mengamankan kepentingannya sendiri. Sugiono mengingatkan, gejala serupa pernah terjadi di masa lalu.
“Terakhir kali dunia mengalami gejala-gejala ini, Liga Bangsa-Bangsa mengalami collapse yang kemudian berujung pada pecahnya Perang Dunia Kedua,” jelasnya.
Ia membeberkan, dunia saat ini bergerak menuju kompetisi yang semakin tajam dan fragmentasi yang lebih dalam. Kondisi tersebut ditandai oleh interdependensi ekonomi yang kompleks, serta peran signifikan aktor non-negara dalam dinamika global.
Sugiono menyebut tatanan global kini bergerak ke arah multiplex world order, di mana berbagai panggung kepentingan, aktor dominan, dan aturan main berjalan secara bersamaan. Kerja sama antarnegara pun semakin bersifat transaksional.
“Saat ini kita hidup di ruang abu-abu yang berbahaya, di mana batas antara perdamaian dan perang tidak tegas, dan tanpa celah untuk salah membaca situasi,” bebernya.
Menghadapi realitas tersebut, Sugiono menegaskan bahwa pilihan Indonesia menjadi semakin jelas. Ketahanan nasional yang kuat serta kapasitas untuk menentukan arah kebijakan sendiri menjadi kunci utama bertahan di tengah ketidakpastian global.
“Ini adalah realitas yang kita hadapi bersama, dan bagi Indonesia, survival adalah soal memiliki ketahanan nasional yang kuat, disertai kapasitas untuk menentukan arah kita sendiri,” pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
