
Pagpag, makanan daur ulang yang dikonsumsi masyarakat prasejahtera di Filipina. (scmp.com)
JawaPos.com - Di balik gemerlap kota Manila, Filipina, terdapat sebuah praktik kuliner ekstrem yang menggambarkan ketimpangan sosial secara nyata, pagpag.
Istilah ini berasal dari bahasa Tagalog yang berarti “mengibaskan debu”, merujuk pada tindakan membersihkan sisa makanan dari tempat sampah sebelum dimasak ulang dan dikonsumsi.
Meski terdengar tak lazim, bagi ribuan warga miskin Filipina, pagpag bukan sekadar makanan, melainkan satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Menurut laporan investigatif dari 9pt.com, pagpag dikumpulkan dari limbah restoran cepat saji, hotel, dan warung makan yang dibuang setiap malam. Prosesnya dimulai dengan memilah sisa makanan seperti ayam goreng, burger, dan potongan daging dari tumpukan sampah.
Setelah itu, makanan dicuci berulang kali untuk menghilangkan kotoran, abu rokok, dan serpihan plastik, lalu dimasak kembali dan biasanya dengan cara digoreng atau direbus menggunakan bumbu lokal seperti adobo atau kaldereta.
“Pagpag bukan hanya soal rasa, tapi soal bertahan hidup,” ujar seorang warga Tondo, Manila, yang diwawancarai oleh tim 9pt.
Ia menambahkan bahwa makanan ini dijual di warung pinggir jalan dengan harga sekitar ₱10–₱30 (sekitar Rp2.500–Rp8.000), menjadikannya pilihan utama bagi keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Meski murah dan mengenyangkan, pagpag menyimpan risiko kesehatan yang serius. Makanan yang telah terkontaminasi dan tidak disimpan dengan benar dapat membawa bakteri seperti salmonella, E. coli, dan listeria.
Laporan dari 9pt mencatat bahwa konsumsi pagpag sering dikaitkan dengan kasus diare kronis, keracunan makanan, dan infeksi parasit.
“Kami tahu ini berbahaya, tapi kami tidak punya pilihan lain,” ujar seorang ibu yang tinggal di kawasan Happyland, Manila.
Dokumenter dari kanal YouTube Discover With OS memperlihatkan secara langsung proses pengumpulan dan pengolahan pagpag.
Dalam video tersebut, terlihat bagaimana warga menyisir tumpukan sampah di belakang restoran, memilih potongan daging yang masih “layak,” lalu mencucinya dan memasaknya kembali.
Beberapa bahkan menjadikan pagpag sebagai sumber penghasilan, menjualnya kepada tetangga dengan keuntungan harian sekitar ₱300 (sekitar Rp80.000).
Pagpag bukan sekadar makanan daur ulang. Ia adalah simbol ketahanan masyarakat miskin Filipina dalam menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses pangan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
