Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Oktober 2025 | 19.28 WIB

Strategi Tanpa Rem OpenAI dan Dominasi Elon Musk: Dua Kekuatan yang Mengubah Arah Inovasi Teknologi Dunia

Sora AI yang dikembangkan OpenAI, simbol dari dorongan inovasi tanpa batas di era kecerdasan buatan global. (The Guardian) - Image

Sora AI yang dikembangkan OpenAI, simbol dari dorongan inovasi tanpa batas di era kecerdasan buatan global. (The Guardian)

JawaPos.com — OpenAI tampaknya memilih jalur berbeda dari para pesaingnya dalam merilis teknologi baru. Pendekatannya terlihat lebih berani dan bahkan cenderung tanpa banyak batasan.

Dalam dua pekan terakhir, peluncuran aplikasi video AI-nya, Sora, mencuri perhatian publik secara global. Antusiasme itu jauh melampaui sambutan terhadap Vibes, produk video serupa dari Meta.

Sora memungkinkan pengguna menciptakan video realistis dari diri sendiri atau orang lain dalam berbagai skenario, sesuatu yang justru sangat dibatasi oleh Meta dalam Vibes. Meta mengambil langkah hati-hati dengan menyematkan Vibes ke dalam aplikasi Meta AI tanpa membuka feed sosial secara publik.

Dalam analisisnya di TechScape, jurnalis teknologi The Guardian, Blake Montgomery menulis bahwa “Sora tidak memiliki pagar pembatas seperti yang diterapkan Meta pada AI-nya, dan kebebasan yang ditawarkan Sora tampaknya menjadi alasan utama mengapa platform itu lebih populer.”

Pendekatan ini menunjukkan filosofi khas OpenAI, yakni meluncurkan produk terlebih dahulu, baru kemudian menangani dampaknya.

Menurut Montgomery, OpenAI membawa semangat “berani mengambil risiko” dalam DNA korporatnya. Jika Google atau Meta menahan produk untuk menjaga reputasi, OpenAI memilih merilis lebih dahulu dan memperbaiki kemudian.

Dia menulis, “OpenAI cenderung merilis produk, melihat apa yang terjadi, lalu mungkin meminta maaf atau menyesuaikan dampaknya setelahnya.”

Namun, Montgomery juga menilai bahwa strategi pengujian keamanan OpenAI masih “tambal sulam dan tidak sistematis,” tanpa jaminan keamanan menyeluruh bagi pengguna.

Kontroversi pun muncul. Beberapa video dalam feed Sora menampilkan wajah AI dari orang sungguhan dalam skenario yang tidak pernah mereka lakukan. Hal ini berbeda dengan Vibes yang secara otomatis menghapus video yang dianggap “mustahil” atau tidak realistis.

Sebagai respons, OpenAI kemudian memperbarui sistemnya agar pengguna dapat mengatur batasan atas representasi AI mereka, termasuk melarang penggunaan dalam konteks politik atau ujaran tertentu.

Sementara itu, dunia teknologi masih dipenuhi dengan figur yang tak henti menjadi pusat pemberitaan, seperti Elon Musk. Montgomery mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, hampir tidak ada pekan tanpa berita tentang CEO Tesla, SpaceX, dan xAI itu.

Dalam salah satu edisi TechScape, dia menulis, “Elon Musk berkampanye besar-besaran untuk Donald Trump,” sementara di edisi lain dia menyoroti “tujuan politik global Musk.”

Menulis tentang Musk, kata Montgomery, berarti menghadapi tokoh yang sulit ditebak. Dia menggambarkan, “Musk adalah pribadi yang tidak konsisten dan kerap bertindak di luar dugaan.”

Sang jurnalis teknologi itu menambahkan bahwa di satu sisi, Musk memiliki pengaruh luar biasa, tetapi di sisi lain kerap mengalami kekalahan yang mencederai reputasinya, seperti kegagalannya dalam pemilihan khusus di Wisconsin yang sempat dia kampanyekan secara terbuka.

Kinerja Tesla juga mengalami tekanan. Penjualan melemah di Amerika Serikat dan Eropa, bahkan muncul tren di mana sebagian pemilik Tesla menanggalkan emblem “T” dari kap mobil untuk menghindari sorotan publik.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore