
Suku Aborigin, penduduk asli Australia yang dipercaya telah mendiami benua ini setidaknya 60.000 tahun silam. (Anthropology.net)
JawaPos.com - Penduduk asli Australia, yang dikenal dengan sebutan Aborigin, memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung selama puluhan ribu tahun. Kehidupan mereka yang penuh harmoni dengan alam perlahan hancur sejak kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-18.
Hingga kini, masyarakat Aborigin masih terus memperjuangkan hak, pengakuan, serta kedaulatan mereka di tengah warisan kolonialisme yang mendalam.
Awal Kehidupan Aborigin
Dikutip dari Australian Department of Foreign Affairs and Trade, orang Aborigin dipercaya telah mendiami Australia setidaknya selama 60.000 tahun. Bahkan, beberapa bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa mereka mungkin telah hidup di benua tersebut lebih dari itu. Kata “Aborigin” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “dari awal mula”.
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat Aborigin hidup secara mandiri di tanah mereka. Menurut Aboriginal Heritage, berbagai klan yang mendiami wilayah Sydney utara menggantungkan hidup dari hasil laut, berburu di pedalaman, serta memanen tanaman liar di sekitar mereka.
Dengan hanya membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam per hari untuk mencari makanan, mereka memiliki banyak kesempatan mengembangkan bahasa, hukum adat, spiritualitas, serta ritual budaya yang erat hubungannya dengan tanah leluhur. Kehidupan ini berlangsung damai dan berkelanjutan selama ribuan tahun.
Kedatangan Bangsa Eropa dan Dampak Kolonialisme
Segalanya berubah ketika Letnan James Cook tiba di pantai timur Australia pada 1770. Sesuai instruksi, ia diminta mengklaim Benua Selatan untuk Kerajaan Inggris jika tidak berpenghuni, atau dengan persetujuan penduduk asli jika telah didiami.
Namun, Cook justru menyatakan wilayah itu sebagai milik Raja George III tanpa meminta persetujuan masyarakat Aborigin. Inilah awal dari doktrin terra nullius atau “tanah tak bertuan”, yang meyangkal keberadaan ribuan tahun peradaban Aborigin.
Pada Januari 1788, Armada Pertama yang dipimpin Kapten Arthur Phillip mendarat di Teluk Sydney untuk mendirikan koloni hukuman. Tindakan kepemilikan tanah oleh Eropa terjadi hanya empat hari setelah mereka tiba, dengan menebangi lahan demi akses air bersih.
Pandangan awal para kolonis terhadap penduduk asli sangat merendahkan, sebagaimana dicatat oleh Watkin Tench, seorang perwira Armada Pertama, yang menggambarkan masyarakat Aborigin sebagai “makhluk malang” tanpa tempat tinggal tetap.
“Tampaknya makhluk-makhluk malang ini tidak memiliki tempat tinggal tetap; terkadang tidur di Gua Batu, yang mereka buat sehangat tungku dengan menyalakan api di tengahnya, mereka akan bermalam di sini, mungkin semalam, lalu di malam berikutnya di tempat lain,” tulis catatan perwira Armada Pertama tersebut, dikutip dari Aboriginal Heritage.
Tidak hanya itu, kedatangan bangsa Eropa membawa dampak bencana. Penyakit menular seperti cacar, influenza, dan sifilis menyapu bersih populasi yang tidak memiliki kekebalan terhadap hal ini. Dalam waktu kurang dari setahun, lebih dari separuh penduduk asli di sekitar Cekungan Sydney meninggal akibat cacar.
Perlawanan dan Kehancuran Sosial
Meski dilanda wabah, orang Aborigin tidak menyerah begitu saja. Mereka melakukan perlawanan gerilya terhadap kolonis Inggris. Namun, dengan jumlah yang semakin berkurang, persenjataan minim, serta tanah yang dirampas, perlawanan ini perlahan padam.

Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Harry Kane Cs Diprediksi Menang, Tapi Laga Berjalan Alot
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia 2026: El Tri Difavoritkan Lolos ke 16 Besar!
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Prediksi Susunan Pemain Timnas Prancis vs Swedia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Adrien Rabiot Waspadai Lini Serang Lawan
