Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Oktober 2025 | 20.54 WIB

Jensen Huang: Blue-Collar Workers Seperti Tukang Listrik dan Ledeng Adalah Pekerjaan yang Selalu Dibutuhkan

Jensen Huang, CEO Nvidia, menekankan pentingnya pekerja blue-collar seperti tukang listrik dan tukang ledeng untuk pembangunan pusat data AI. (Reuters) - Image

Jensen Huang, CEO Nvidia, menekankan pentingnya pekerja blue-collar seperti tukang listrik dan tukang ledeng untuk pembangunan pusat data AI. (Reuters)

JawaPos.com – Dalam era kecerdasan buatan (AI) yang semakin berkembang, banyak generasi muda khawatir akan peluang kerja mereka, terutama untuk posisi entry-level.

Namun, menurut CEO Nvidia, Jensen Huang, peluang justru sangat besar bagi mereka yang bersedia menekuni pekerjaan berbasis keterampilan fisik atau blue-collar, seperti tukang listrik, tukang ledeng, tukang kayu, dan pekerja konstruksi, melalui pendidikan vokasi.

“Jika Anda seorang tukang listrik, tukang ledeng, atau tukang kayu—kami akan membutuhkan ratusan ribu orang untuk membangun semua pabrik ini,” kata Huang dalam wawancara dengan Channel 4 News di Inggris, dilansir dari Fortune, Kamis (2/10/2025).

Huang menekankan bahwa sektor pekerjaan berbasis keterampilan praktis akan mengalami lonjakan signifikan.

“Segmen keterampilan kerajinan dari setiap ekonomi akan mengalami booming. Anda harus menggandakan dan menggandakan setiap tahun,” ujarnya.

Pernyataan ini tidak hanya teori; Nvidia telah menginvestasikan 100 miliar dolar Amerika, sekitar 1.663 triliun rupiah, dengan kurs 16.630 rupiah per dolar Amerika, untuk mendukung pengembangan pusat data yang menggunakan prosesor AI mereka.

Sejalan dengan proyeksi McKinsey, pengeluaran modal global untuk pusat data akan mencapai 7 triliun dolar Amerika, sekitar 116.410 triliun rupiah, pada 2030.

Sebuah pusat data berukuran 250.000 kaki persegi bisa mempekerjakan hingga 1.500 pekerja konstruksi selama pembangunan, dengan banyak di antaranya berpenghasilan lebih dari USD 100.000 per tahun (sekitar Rp1,663 miliar) ditambah lembur, tanpa memerlukan gelar sarjana.

Setelah selesai, sekitar 50 pekerja akan tetap memelihara fasilitas tersebut, yang secara ekonomi dapat menciptakan 3,5 pekerjaan tambahan di sekitarnya.

Huang juga menyampaikan pandangannya tentang pendidikan dan peluang generasi muda. Jika ia kembali berusia 20 tahun, Huang mengaku akan memilih disiplin ilmu berbasis sains fisik daripada sains perangkat lunak. Pernyataan ini menegaskan fokusnya bahwa gelombang kesempatan berikutnya lebih banyak terdapat pada sisi fisik teknologi, bukan semata software.

CEO lain pun menyoroti masalah serupa. Larry Fink, CEO BlackRock, memperingatkan Gedung Putih tentang kekurangan pekerja terampil akibat deportasi tenaga kerja imigran dan rendahnya minat kaum muda.

“Kami bahkan sudah memberi tahu anggota tim Trump bahwa kami akan kehabisan tukang listrik yang dibutuhkan untuk membangun pusat data AI,” ujar Fink.

Sementara itu, CEO Ford Jim Farley menyoroti kesenjangan antara ambisi reshoring Amerika Serikat dan tenaga kerja yang tersedia, mengingat kekurangan 600.000 pekerja pabrik dan 500.000 pekerja konstruksi.

Beberapa generasi muda, seperti Jacob Palmer dari North Carolina, telah membuktikan bahwa jalur pendidikan vokasi bisa menguntungkan. Setelah magang sebagai tukang listrik, Palmer mampu membangun bisnis sendiri dan meraih penghasilan enam digit tanpa terbebani utang pendidikan.

Pernyataan Huang dan CEO lainnya menegaskan bahwa dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan kecerdasan digital, tetapi juga keterampilan fisik yang kuat, membuka peluang nyata bagi generasi muda yang siap mengambil jalur ini. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore