
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam rencana Prancis untuk mengakui Negara Palestina sebagai “hadiah bagi terorisme.” (reuters)
JawaPos.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan perang di Gaza hanya bisa berakhir jika para pemimpin Hamas yang bermarkas di Qatar berhasil dieliminasi. Menurutnya, kelompok tersebut menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan gencatan senjata.
"Para pimpinan teroris Hamas yang hidup nyaman di Qatar tidak peduli pada warga Gaza. Mereka menghalangi semua upaya gencatan senjata demi memperpanjang perang tanpa akhir. Menghapus mereka berarti menyingkirkan hambatan terbesar untuk membebaskan para sandera dan mengakhiri perang," ujar Netanyahu di akun X resminya.
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah diplomat senior Amerika Serikat, Marco Rubio, menegaskan aliansi Washington, Tel Aviv tidak akan terganggu meski Presiden Donald Trump menyatakan 'tidak senang' dengan serangan Israel terhadap Hamas di Qatar.
"Ini tidak akan mengubah sifat hubungan kami dengan Israel, tetapi kami perlu membicarakan dampaknya terhadap upaya diplomasi menuju gencatan senjata di Gaza," kata Rubio.
Gaza Digempur, Korban Sipil Terus Bertambah
Sementara wacana gencatan senjata kembali mencuat, situasi di lapangan justru semakin memburuk. Militer Israel melancarkan serangan intensif di Gaza City dengan dalih menghancurkan infrastruktur Hamas.
Dalam serangan udara terbaru, sedikitnya 32 orang tewas, termasuk 12 anak-anak, menurut laporan tenaga medis dan Kementerian Kesehatan Gaza. Salah satu serangan di kawasan Sheikh Radwan menewaskan satu keluarga beranggotakan 10 orang.
Korban lain termasuk pesepak bola Palestina, Mohammed Ramez Sultan, pemain Al-Helal Sporting Club, yang tewas bersama 14 anggota keluarganya. Foto-foto memperlihatkan gedung-gedung bertingkat rata dengan tanah disertai kepulan asap tebal.
Selain itu, di tengah kritik global, Netanyahu tetap bergeming. Jumat pekan lalu, Majelis Umum PBB mendukung kembali solusi dua negara, sebuah langkah yang ditentang keras Israel.
Sejumlah sekutu dekat Israel seperti Inggris, Prancis, dan Jerman mulai menunjukkan ketidaksabaran. Mereka menyerukan penghentian serangan di Gaza sekaligus bersiap mengakui negara Palestina dalam forum PBB bulan ini.
Meski demikian, Israel masih mendapatkan sokongan penuh dari sekutunya yang paling berpengaruh, Amerika Serikat. Jurubicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott menegaskan Rubio akan meneguhkan komitmen Washington melawan upaya "sepihak" pengakuan Palestina yang dianggap memberi keuntungan bagi Hamas.
Tekanan dari Dalam Negeri
Selain tekanan internasional, Netanyahu juga menghadapi kritik dari masyarakat Israel sendiri. Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang menuding sang perdana menteri sebagai "satu-satunya penghalang" pembebasan para sandera.
Dari 251 orang yang diculik Hamas pada Oktober 2023, 47 masih berada di Gaza, termasuk 25 yang diyakini sudah meninggal. Kelompok keluarga korban menuding Netanyahu sengaja menggagalkan beberapa upaya gencatan senjata demi mempertahankan strategi militernya, demikian melansir LeMonde.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
