Shwedagon Pagoda memancarkan cahaya emas di senja hari, menjulang anggun di atas Yangon sebagai simbol spiritual dan kebanggaan nasional Myanmar (Dok. Rainforest Cruises )
JawaPos.com - Shwedagon Pagoda berdiri megah di atas Singuttara Hill, Yangon, menjulang setinggi hampir 100 meter dan menjadi landmark paling ikonik di Myanmar.
Pagoda ini bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan juga pusat spiritual umat Buddha. UNESCO bahkan mencatat situs ini sebagai salah satu stupa reliquary terpenting di dunia, karena menggabungkan fungsi ibadah, sejarah, dan simbol identitas bangsa.
Legenda seputar asal-usul Shwedagon begitu kental di masyarakat. Menurut catatan dari Rainforest Cruises, dua saudagar bernama Taphussa dan Bhallika menerima delapan helai rambut suci dari Buddha. Relik itu mereka persembahkan kepada Raja Okkalapa, yang kemudian membangun sebuah stupa untuk menyimpannya di puncak Singuttara Hill. Kisah ini diyakini sebagai fondasi spiritual dari Shwedagon yang kita kenal hari ini.
Namun, sejarah arkeologis memberikan versi berbeda. Seperti dijelaskan UNESCO, meski legenda menyebut usia Shwedagon mencapai lebih dari 2.600 tahun, para sejarawan memperkirakan pembangunan awalnya terjadi antara abad ke-6 hingga ke-10 Masehi. Fakta ini menambah dimensi unik: Shwedagon berada di persimpangan antara mitos religius dan bukti sejarah nyata.
Seiring perjalanan waktu, Shwedagon mengalami renovasi besar oleh para penguasa Myanmar. UNESCO mencatat bahwa Ratu Shin Sawbu dari abad ke-15 mempersembahkan emas seberat tubuhnya untuk melapisi stupa, sebuah tradisi yang diteruskan hingga kini. Sumbangan emas dan batu mulia dari generasi ke generasi menjadikan Shwedagon sebagai bangunan yang bukan hanya indah, tetapi juga sarat makna pengabdian.
Kemegahan Shwedagon memang menakjubkan, tetapi perjalanan panjangnya penuh ujian. Dalam laporan Build Myanmar Media, disebutkan bahwa pagoda ini telah menghadapi sedikitnya 12 gempa besar dalam 570 tahun terakhir. Beberapa di antaranya bahkan meruntuhkan mahkota pagoda, memaksa masyarakat untuk membangunnya kembali dengan penuh tekad.
Selain bencana alam, Shwedagon juga menjadi saksi kekacauan politik dan kolonialisme. Penjajah Portugis dan Inggris beberapa kali menjarah harta sakral dari pagoda. Bahkan, saat Perang Anglo-Burma, ruang penyimpanan relik Buddha pernah dibobol demi kepentingan perang, meninggalkan luka sejarah yang mendalam bagi rakyat Myanmar.
Shwedagon juga memiliki makna politis dalam sejarah modern Myanmar. Di era penjajahan Inggris, muncul perlawanan budaya ketika masyarakat menolak aturan kolonial yang mewajibkan mengenakan sepatu di area suci. Penolakan ini bukan sekadar tentang etika beribadah, melainkan juga bentuk simbolik perlawanan rakyat terhadap arogansi penjajah.
Meski diterpa gempa, dijarah, dan diwarnai konflik politik, Shwedagon tidak pernah kehilangan pesonanya. Bahkan hingga hari ini, pengunjung masih takjub melihat ribuan permata dan berlian yang menghiasi pagoda, terutama saat sinar matahari sore membuat stupa berlapis emas itu bersinar bagaikan api.
Bagi warga Myanmar, Shwedagon lebih dari sekadar objek wisata atau monumen bersejarah. UNESCO menilai pagoda ini adalah pusat kehidupan spiritual dan sosial, tempat umat Buddha berdoa, merenung, dan mempersembahkan ritual keagamaan yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Shwedagon merepresentasikan kesinambungan antara tradisi, keyakinan, dan identitas bangsa.
Kini, Shwedagon Pagoda tidak hanya berdiri sebagai monumen emas di atas bukit, tetapi juga sebagai simbol keabadian Myanmar. Kisahnya yang berlapis, dari legenda suci, renovasi kerajaan, bencana, kolonialisme, hingga kebangkitan nasional, menjadikannya ikon yang benar-benar "tak lekang waktu."

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
