
Pertemuan antara Putin, Xi Jinping dan Kim Jong Un. (APNews).
JawaPos.com - Kremlin menepis pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menuding Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara tengah bersekongkol melawan Washington.
Seorang pejabat tinggi Kremlin menyebut tuduhan itu tidak berdasar dan bahkan "tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun".
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menggelar pertemuan di Beijing, Rabu (3/9), usai menghadiri parade militer besar-besaran di Tiananmen Square yang dipimpin Presiden China Xi Jinping untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.
Parade tersebut diwarnai unjuk kekuatan militer Tiongkok dengan ribuan pasukan dan senjata berat, serta dihadiri puluhan pemimpin dunia, meski hampir tak ada dari negara Barat.
Namun, lewat unggahan di Truth Social, Trump menulis: "Sampaikan salam hangat saya untuk Vladimir Putin dan Kim Jong Un, saat kalian bersekongkol melawan Amerika Serikat."
Komentar ini segera menjadi sorotan internasional. Putin sendiri menanggapi dengan nada santai, menyebut bahwa "semua orang tahu Trump tidak kehilangan selera humornya".
Kehadiran Putin, Kim, dan Xi secara bersamaan di panggung parade dinilai sebagai pesan simbolis tentang semakin eratnya poros Moskow–Pyongyang–Beijing.
Bahkan, Putin dan Kim diketahui menuju lokasi pertemuan dengan satu mobil yang sama, sementara Kim juga membawa putrinya, Kim Ju Ae, seperti ditunjukkan media resmi Korea Utara.
Dalam pertemuan tersebut, Putin memuji keberanian tentara Korea Utara yang disebutnya ikut membantu Rusia menghadapi serangan Ukraina di wilayah perbatasan Kursk. Kim menegaskan kembali komitmen aliansi strategis dengan Moskow yang diteken pada Juni 2024.
"Kalau ada hal lain yang bisa saya lakukan untuk rakyat Rusia, saya akan menganggapnya sebagai kewajiban persaudaraan," kata Kim.
Mengutip Al-Jazeera, menurut pejabat Korea Selatan, sejak 2024 Korea Utara telah mengirim sekitar 15.000 tentaranya ke Rusia, disertai pasokan artileri dan rudal balistik KN-23.
Sebagai imbalannya, Pyongyang diyakini mendapat akses ke teknologi militer Rusia, termasuk sistem pemandu satelit untuk memperkuat program misilnya.
Langkah ini semakin menegaskan perubahan peta geopolitik Asia Timur sekaligus memperkuat blok negara-negara yang berseberangan dengan Barat.
Pyongyang sendiri baru pada April 2025 mengakui keterlibatan langsung tentaranya di medan perang Ukraina, serta mengakui adanya korban jiwa. Pekan lalu, Kim Jong Un bahkan menemui keluarga tentara yang gugur.
Ia menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus berjanji negara akan menanggung penuh masa depan anak-anak mereka.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Spanyol vs Austria: Bursa Taruhan Jagokan La Roja, Opta Klaim Peluang Menang 70,6 Persen
Kemenhub Ungkap Kronologi Putus Kontak Pesawat PK-RCY di Balinggama Papua, Pilot Dilaporkan Meninggal Dunia
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
