Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Agustus 2025 | 17.31 WIB

Angkor Wat: Keajaiban Abadi Kamboja yang Menjadi Pusat Spiritualitas dan Pariwisata Dunia

Angkor Wat. (Tripadvisor) - Image

Angkor Wat. (Tripadvisor)

JawaPos.com - Angkor Wat merupakan kompleks candi terbesar di dunia yang dibangun pada abad ke-12 dan kini menjadi simbol kebanggaan serta spiritualitas masyarakat Kamboja. Menurut Britannica, candi ini awalnya dibangun sebagai kuil Hindu yang didedikasikan untuk Wisnu, lalu berubah menjadi pusat pemujaan Buddha pada akhir abad yang sama. Kawasan Angkor sendiri membentang seluas sekitar 400 kilometer persegi dan menjadi situs arkeologi paling penting di Asia Tenggara, seperti dicatat oleh UNESCO.

Kompleks megah ini didirikan oleh Raja Suryavarman II antara 1113–1150 Masehi. History.com menjelaskan bahwa pada masa itu Angkor Wat berfungsi tidak hanya sebagai pusat keagamaan, tetapi juga sebagai lambang kekuasaan kerajaan Khmer. Nama “Angkor Wat” sendiri berarti “Kota Candi” dalam bahasa Khmer, yang mencerminkan betapa monumental perannya dalam kehidupan masyarakat Kamboja.

Pada tahun 1992, Angkor resmi ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. Namun, status tersebut juga menempatkannya di daftar situs yang terancam punah karena kerusakan lingkungan dan konflik sosial. UNESCO menegaskan bahwa restorasi intensif berhasil mengeluarkan Angkor dari daftar bahaya pada 2004, tetapi perawatan berkelanjutan tetap diperlukan agar situs ini dapat bertahan untuk generasi mendatang.

Pelestarian Angkor kini tidak hanya berfokus pada struktur bangunan, tetapi juga ekosistem sekitarnya. Dalam sebuah kajian, ResearchGate pada 2016 menyatakan bahwa “manajemen Angkor, situs Warisan Dunia ikonik, sebelumnya fokus pada konservasi dan restorasi dalam batas situs, tetapi kini mulai mengintegrasikan pengelolaan sumber daya alam dan sosial di ekosistem Angkor yang lebih luas.” Hal ini menandakan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dipisahkan dari pelestarian lingkungan.

Teknologi modern turut memperkuat penelitian di kawasan ini. Wired melaporkan bahwa pemindaian LiDAR “mengungkap lanskap perkotaan luas dan sistem hidrolik besar di sekitar Angkor Wat… mencakup hingga 1.000 km² pada abad ke-13.” Temuan ini memperlihatkan betapa maju dan kompleksnya tata kota yang pernah dibangun oleh peradaban Khmer di masa lalu.

Namun, popularitas Angkor Wat juga membawa tantangan serius. UNESCO mencatat bahwa jumlah pengunjung melonjak dari ribuan orang di awal 1990-an menjadi lebih dari dua juta orang per tahun. Laporan di Everything-Everywhere mengingatkan bahwa “lonjakan wisatawan memang membawa keuntungan ekonomi besar, tetapi juga berisiko menimbulkan kerusakan tak tergantikan pada situs budaya.” Oleh karena itu, pengelolaan arus wisata menjadi prioritas.

Untuk menghadapi situasi ini, pemerintah Kamboja mendirikan APSARA National Authority pada 1995. Lembaga ini mengatur konservasi, penelitian, dan pengembangan pariwisata di kawasan Angkor. Di sisi lain, organisasi lokal seperti Artisans Angkor juga berperan melalui reproduksi ukiran dan patung dengan keterampilan tradisional. Menurut laporan Artisans Angkor, pelatihan lokal ini tidak hanya melestarikan keaslian karya, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar.

Peran teknologi tidak bisa diabaikan. Wired kembali menekankan pentingnya LiDAR dalam mengidentifikasi struktur tersembunyi, sehingga strategi konservasi bisa lebih tepat sasaran. Dengan cara ini, para peneliti mampu memprediksi kerusakan lebih dini dan menyusun rencana pemulihan yang lebih efektif.

Meski begitu, isu sosial kerap membayangi. Associated Press (AP News) pernah melaporkan kontroversi terkait relokasi warga di sekitar kompleks Angkor. Pemerintah Kamboja membantah tuduhan pelanggaran hukum internasional dan menegaskan bahwa relokasi hanya menyasar pemukim ilegal, bukan masyarakat tradisional. Kontroversi ini menunjukkan bahwa pelestarian warisan dunia kerap bersinggungan dengan kepentingan sosial-ekonomi.

Pada akhirnya, Angkor Wat bukan hanya monumen kuno, melainkan representasi sejarah, spiritualitas, dan kebanggaan nasional Kamboja. Dari kejayaan arsitektur dan tata kota kuno hingga tantangan pelestarian modern, Angkor tetap berdiri sebagai simbol abadi yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seperti ditegaskan UNESCO, keberlangsungan Angkor Wat bergantung pada kerja sama antara ilmu pengetahuan, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga warisan ini tetap hidup. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore