
Keir Starmer (kiri) dan Emmanuel Macron menyerukan pencabutan pembatasan bantuan ke Gaza. Macron tegaskan Prancis akan akui Palestina di sidang PBB. (The Guardian)
JawaPos.com — Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa pemerintahnya akan melanjutkan rencana pengiriman bantuan udara ke Gaza serta mengevakuasi anak-anak yang membutuhkan perawatan medis mendesak. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah tersebut, yang oleh Downing Street—kantor resmi Perdana Menteri Inggris di London—digambarkan sebagai situasi yang “mengerikan”.
Dilansir dari The Guardian, Senin (28/7/2025), pernyataan ini disampaikan Starmer dalam pembicaraan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Sabtu (26/7) pagi. Dalam pertemuan tersebut, ketiga pemimpin sepakat untuk memperkuat kerja sama dalam mendorong solusi jangka panjang yang menjamin keamanan kawasan Timur Tengah.
Juru bicara Downing Street menyatakan, “Tiga pemimpin membahas situasi di Gaza yang mereka sepakati sangat mengerikan, dan menekankan pentingnya gencatan senjata segera, pencabutan semua pembatasan terhadap bantuan, serta penyediaan makanan secara mendesak bagi warga Gaza yang sangat membutuhkannya.”
Starmer juga menjelaskan bahwa Inggris akan bekerja sama dengan Yordania untuk melaksanakan misi bantuan udara serta evakuasi medis. “Perdana Menteri memaparkan bagaimana Inggris akan melanjutkan rencana kerja sama dengan mitra seperti Yordania untuk menjatuhkan bantuan dari udara dan mengevakuasi anak-anak yang memerlukan bantuan medis,” tambah juru bicara tersebut.
Lebih lanjut, mereka menyepakati pentingnya membangun rencana jangka panjang agar gencatan senjata yang dibutuhkan segera dapat berkembang menjadi perdamaian permanen. “Ketiganya sepakat bahwa sangat penting untuk memastikan tersusunnya rencana yang kuat guna mengubah gencatan senjata darurat menjadi perdamaian abadi,” ujar Downing Street.
Di tengah meningkatnya kecaman global terhadap blokade Israel yang menghambat masuknya bantuan, situasi di Gaza semakin memburuk. Laporan dari otoritas kesehatan Palestina menyebutkan 43 kematian akibat kelaparan dalam tiga hari terakhir, menambah jumlah sebelumnya sebanyak 68 korban. Médecins Sans Frontières melaporkan bahwa malnutrisi berat pada anak di bawah lima tahun di klinik mereka di Gaza City meningkat tiga kali lipat dalam dua pekan terakhir.
Dalam perkembangan lain, Inggris bersama 27 negara lain telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk Israel karena telah merampas “martabat kemanusiaan” warga Palestina. Mereka menyerukan pencabutan segera pembatasan bantuan serta diakhirinya perang di Gaza.
Selain itu, mereka mengecam rencana Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, untuk memindahkan 600.000 warga Palestina ke sebuah “kota kemanusiaan” di Rafah—wilayah yang telah hancur akibat serangan bom Israel—dan menyebutnya sebagai tindakan yang “sama sekali tidak dapat diterima”.
Kementerian Luar Negeri Israel menolak pernyataan tersebut hanya beberapa jam kemudian dan menyebutnya “tidak sesuai dengan kenyataan.” Sementara itu, juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, menyatakan kepada Sky News, “Tidak ada kelaparan di Gaza. Yang ada adalah kelaparan terhadap kebenaran.”
Namun demikian, pada Sabtu, militer Israel mengumumkan bahwa pihaknya akan memulai pengiriman bantuan kemanusiaan dari udara ke Gaza dan membuka koridor kemanusiaan bagi konvoi PBB. Militer Israel juga menyatakan kesiapannya untuk memberlakukan “jeda kemanusiaan” di wilayah padat penduduk guna memungkinkan distribusi bantuan.
Sebagai bagian dari upaya ini, sehari sebelumnya, pada Jumat, Israel telah menyetujui permintaan dari Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengirimkan bantuan lewat udara. Meski demikian, metode pengiriman bantuan melalui udara dinilai kurang efisien karena biaya yang jauh lebih tinggi dan volume pasokan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bantuan melalui jalur darat.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri UEA, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan, menyatakan bahwa negaranya akan segera melanjutkan misi pengiriman bantuan udara ke Gaza. “Situasi kemanusiaan di Gaza telah mencapai tingkat yang kritis dan belum pernah terjadi sebelumnya,” tulisnya dalam unggahan di platform X. Dia menegaskan, “Kami akan memastikan bantuan penting mencapai mereka yang paling membutuhkan, baik melalui jalur darat, udara, maupun laut. Bantuan udara akan segera dimulai kembali.”
Di tengah perkembangan tersebut, Starmer kini menghadapi tekanan besar dari sejumlah menteri senior dan sepertiga anggota parlemen Inggris agar bergerak lebih cepat dalam mengakui negara Palestina. Wakil Perdana Menteri Angela Rayner, Menteri Dalam Negeri Yvette Cooper, Menteri Kesehatan Wes Streeting, Menteri Kehakiman Shabana Mahmood, dan Menteri Irlandia Utara Hilary Benn termasuk di antara yang mendesak pemerintah Inggris untuk menunjukkan kepemimpinan bersama Prancis dalam pengakuan kenegaraan Palestina.
Tekanan juga datang dari dalam parlemen lintas partai. Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, mendapat kecaman dalam sidang parlemen setelah dinilai lamban menanggapi eskalasi krisis. Salah satu kritik paling tajam disampaikan oleh anggota parlemen Partai Konservatif, Kit Malthouse.
Dia menyebut pernyataan Lammy begitu “membingungkan” mengingat kekerasan di Tepi Barat terus terjadi. “Saya benar-benar kehabisan kata menyaksikan ketidakaktifan Anda. Diam dalam situasi seperti ini sama saja dengan membiarkan kekejaman terus terjadi, dan tindakan pasif seperti itu bisa membawa Anda secara pribadi ke hadapan Mahkamah Internasional di Den Haag,” ujar Malthouse dengan nada tajam.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
