Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Juli 2025 | 22.43 WIB

30 Hari Menjabat, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung Serukan Dialog dengan Korea Utara

Presiden Lee Jae Myung memberikan pidato, menandai 30 hari pertamanya menjabat (Dok. Joint Press Corps)

JawaPos.com - Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, menekankan pentingnya meningkatkan hubungan antar-Korea melalui dialog. Ia dengan tegas memperingatkan bahwa pemutusan komunikasi sepenuhnya dengan Korea Utara akan menjadi "tindakan bodoh."

Pernyataan itu disampaikan Presiden Lee pada konferensi pers yang menandai 30 hari pertama masa jabatannya pada Kamis (3/7), bertempat di Yeongbingwan, aula penerimaan kenegaraan Cheong Wa Dae. Dalam kesempatan itu, Lee menggarisbawahi pentingnya membina perdamaian di Semenanjung Korea melalui keterlibatan berkelanjutan dengan Korea Utara.

"Dialog, komunikasi, dan kerja sama sangat penting. Bahkan di masa perang, diplomasi terus berlanjut. Kita harus bersedia mendengarkan, bahkan jika kita tidak menyukai pihak lain," katanya kepada wartawan.

Pernyataan presiden liberal itu muncul di tengah kondisi hubungan antar-Korea yang berada pada titik terburuknya dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dipicu oleh sikap garis keras yang didorong oleh presiden pendahulunya yang konservatif, Yoon Suk Yeol.

Dikutip dari Korea Times, Lee juga menyoroti tanggapan terkini dari Korea Utara mengenai penghentian siaran propaganda melalui pengeras suara sebagai tanda yang menggembirakan. Korea Selatan menghentikan siaran ke Korea Utara pada 11 Juni, dan Korea Utara pun menghentikan siarannya sendiri pada hari berikutnya.

"Ketika kami memutuskan untuk menghentikan semua siaran pengeras suara anti-Korea Utara di dekat perbatasan, saya benar-benar khawatir bahwa mungkin tidak akan ada tanggapan sama sekali. Namun, reaksi mereka datang dengan cepat, lebih cepat dan lebih positif dari yang diharapkan," ujar Lee.

Menegaskan kembali komitmen konstitusional Korea Selatan terhadap reunifikasi damai, Lee mencatat bahwa seruan terbuka untuk reunifikasi saat ini dapat disalahartikan oleh Korea Utara sebagai tuntutan untuk tunduk atau diserap.

"Itulah sebabnya beberapa pihak mengusulkan perubahan nama untuk Kementerian Unifikasi. Tidak ada negara yang ingin diserap secara paksa."

Lee kembali menekankan perlunya keterlibatan yang berkelanjutan dan jangka panjang dengan Korea Utara.

Ia menambahkan bahwa ia telah membahas masalah tersebut dengan Kantor Keamanan Nasional dan Badan Intelijen Nasional. "Saya akan menyampaikan hasilnya ketika waktunya tepat."

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore