Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 April 2025 | 21.56 WIB

Demi Mendapatkan Layanan Kesehatan, Warga Myanmar Antusias Rela Antre Hingga 400 Orang Per Hari

Bantuan kemanusiaan untuk korban Gempa Bumi M 7,7 di Myanmar. (Kemenlu).

Cerita Pengalaman Tim Cadangan Kesehatan Emergency Medical Team Indonesia di Myanmar

Gempa Myanmar yang terjadi pada 28 Maret lalu menyisakan banyak luka dan kesedihan. Fasilitas kesehatan di sanapun turut terdampak dari gempa bermagnitudo 7,7 skala richter. Kedatangan tim Cadangan Kesehatan Emergency Medical Team Indonesia (TCK-EMT) di Myanmar disambut warga lokal dengan begitu antusias.

 RETNO DYAH AGUSTINA

 Tepat satu pekan sudah pelayanan para petugas kesehatan dari Indonesia untuk masyarakat di Naypyidaw, Myanmar. Pelayanan mereka diincar warga setempat. Tiap hari, antrean mengular dari tenda hingga lapangan kosong di depan Rumah Sakit Ottarathiri itu. ”Kami buka dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore,” ucap dr M. Hardian Basuki, SpOT, salah satu delegasi.

 Hingga Minggu (13/4), delegasi dari Indonesia telah melayani 1.738 pasien dalam rentang 7 hari. ”Ini di luar ekspektasi. Awalnya, kami persiapkan layanan 100 pasien per hari,” ucap Basuki. Pada hari ke-4 atau Kamis lalu, pihaknya menangani hingga 422 pasien. Tertinggi selama sepekan. Pada awal pembukaan klinik, antrean memang begitu tinggi. Sebab, masih banyak pasien yang belum mendapatkan pertolongan hingga delegasi datang.

 ”Fasilitas di sini memang masih terbatas karena banyak yang rusak, petugas medisnya juga nggak banyak yang siap melayani,” tutur dokter asal Surabaya itu. Kedatangan tim dari Indonesia dinilai jadi penolong. Para delegasi pun merasa terharu, melihat kepercayaan masyarakat Myanmar pada mereka. Ia melihat banyak pasien yang juga merespon baik karena para dokter telah datang dari luar negeri. ”Jadi ada rasa kagum juga, dari luar negeri sampai ke sini,” imbuhnya.

 Ribuan pasien yang berobat bukan hanya korban gempa. Bahkan sekitar 92 persen pasien selama sepekan, memiliki kondisi yang tak berkaitan dengan gempa. ”Banyak juga yang melanjutkan rawat jalan akibat kondisi sebelumnya, misalnya punya gangguan ginjal,” jawab dr Jaya Ariheryanto, SpA, delegasi lainnya.

 Sedangkan, pasien-pasien akibat gempa biasanya membutuhkan bantuan rawat luka hingga pemasangan gips untuk patah tulang. ”Di hari-hari pertama, pasien datang dengan luka yang belum tertangani sama sekali,” ucap Basuki. Meski darah tak lagi banyak mengucur, namun luka mereka masih kotor oleh debu dan serpihan kecil reruntuhan. Beruntung kondisi tersebut bisa tertangani dengan pembersihan dan perawatan luka.

 Beberapa kasus patah tulang yang rumit, tak bisa ditangani langsung oleh mereka. ”Kami bikin klinik tipe 1 menetap, jadi layanannya hanya rawat jalan. Tidak bisa operasi, tidak ada rawat inap,” ucap Ketua TCK-EMT Indonesia untuk Myanmar dr Eko Medistianto, MEpid. Mereka hanya bisa menjaga agar pergerakan di area tulang terbatas sembari merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih besar.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore