Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Desember 2024 | 00.10 WIB

7 Fakta Gelap yang Mengungkap Hubungan Erat Antara Kejahatan Terorganisasi dan Praktik Korupsi Global

Ilustrasi koruptor. (Feepik) - Image

Ilustrasi koruptor. (Feepik)

JawaPos.com – Fenomena kejahatan terorganisasi tidak dapat dilepaskan dari praktik korupsi yang menyertainya. Kombinasi keduanya menciptakan lingkaran permasalahan yang mengganggu tatanan sosial, politik, dan ekonomi suatu negara.

Kejahatan terorganisasi merupakan aktivitas kriminal yang dilakukan oleh kelompok dengan struktur dan rencana yang sistematis. Tujuan utama aktivitas ini adalah untuk memperoleh keuntungan besar melalui cara ilegal yang terkoordinasi.

Memahami hubungan antara kejahatan terorganisasi dan korupsi membantu mengungkap penyebab utama berbagai masalah sosial. Hal ini juga membuka peluang untuk menyusun strategi pencegahan yang lebih efektif.

Berikut tujuh fakta gelap yang mengungkap hubungan erat antara kejahatan terorganisasi dan praktik korupsi global dilansir dari laman Unodc oleh JawaPos.com:

1. Korupsi sebagai Penyalahgunaan Kekuasaan

Korupsi mencerminkan tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang dipercayakan untuk keuntungan pribadi. Bentuknya beragam, mulai dari penyuapan, penggelapan, hingga perdagangan pengaruh.

Korupsi sering muncul karena lemahnya pengawasan dan adanya peluang besar untuk mendapatkan keuntungan tanpa risiko tinggi. Di sektor publik, korupsi mengalihkan sumber daya penting seperti anggaran pendidikan atau kesehatan menjadi keuntungan pribadi pelaku.

Dampak lainnya adalah hancurnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang seharusnya melindungi kepentingan publik. Dengan demikian, korupsi bukan hanya persoalan individu tetapi juga masalah struktural yang merusak tatanan sosial.

2. Kejahatan Terorganisasi Mengandalkan Korupsi

Kejahatan terorganisasi memanfaatkan korupsi untuk mempertahankan keberlangsungan operasinya. Praktik ini mencakup penyuapan pejabat publik untuk menutup mata terhadap aktivitas ilegal.

Misalnya, kelompok kriminal membayar aparat penegak hukum agar lokasi operasi mereka tidak diganggu. Hal ini memungkinkan mereka menjalankan bisnis ilegal seperti perdagangan narkoba, penyelundupan, dan pencucian uang.

Tanpa korupsi, aktivitas mereka akan lebih mudah terungkap oleh aparat berwenang. Hubungan ini menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan kejahatan terorganisasi pada korupsi.

3. Korupsi Menjadi Pelindung Aktivitas Ilegal

Korupsi berfungsi sebagai perisai yang melindungi kelompok kriminal dari penegakan hukum. Contohnya adalah manipulasi kasus hukum, di mana pejabat yang korup memastikan bahwa para pelaku kejahatan tidak dijatuhi hukuman.

Pejabat juga sering terlibat dalam pengamanan aset hasil kejahatan agar tidak disita oleh negara. Jalur logistik ilegal, seperti perdagangan manusia atau barang selundupan, juga dilindungi melalui suap kepada petugas perbatasan.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore