Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Agustus 2024 | 15.12 WIB

Dokter RS di India Jadi Korban Rudapaksa dan Dibunuh secara Biadab, Kondisinya Ditemukan Mengenaskan

Ilustrasi: korban pemerkosaan. (Kokoh Praba/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi: korban pemerkosaan. (Kokoh Praba/Jawa Pos)

JawaPos.com – Para dokter rumah sakit (RS) di India melancarkan aksi mogok nasional, Sabtu (17/8). Pemogokan itu merupakan buntut pemerkosaan dan pembunuhan biadab terhadap rekan mereka. Dilansir dari AFP, pada 9 Agustus lalu, masyarakat dibuat gempar lantaran penemuan tubuh dokter berusia 31 tahun yang berlumuran darah di sebuah RS milik pemerintah di timur Kolkata.

Dokter itu diketahui dibunuh, jenazahnya ditemukan di aula seminar RS pendidikan di Kolkata. Disebutkan bahwa dokter malang itu pergi ke sana untuk beristirahat setelah menjalani sif 36 jam. Hasil otopsi mengonfirmasi adanya serangan seksual. Dalam petisi ke pengadilan, orang tua korban mengatakan bahwa mereka menduga putri mereka diperkosa beramai-ramai.

Aksi biadab itu lantas memicu kemarahan dokter di seluruh penjuru negeri. Protes tersebut juga diikuti oleh puluhan ribu warga sipil India yang menuntut adanya tindakan tegas. Di Kolkata, ribuan orang mengadakan acara peringatan dengan menyalakan lilin hingga Sabtu pagi.

"Tangan yang menyembuhkan tidak boleh berdarah," demikian bunyi salah satu spanduk yang dipegang oleh seorang pengunjuk rasa. "Sudah cukup," tulis spanduk lain oleh para dokter saat berdemo di New Delhi. "Gantung si pemerkosa," tulis spanduk lainnya.

Hentikan Layanan Medis Selama 24 Jam

Banyak serikat medis, baik lingkup pemerintah maupun swasta, yang mendukung aksi mogok kerja massal itu. Pada Sabtu (17/8) pagi waktu setempat, Asosiasi Medis India (IMA) memperluas aksi protes, terutama mogok kerja para dokter, dengan penarikan layanan secara nasional selama 24 jam dan penangguhan semua prosedur non-esensial.

"Kami meminta pengertian dan dukungan bangsa dalam perjuangan keadilan bagi para dokter dan anak-anak perempuan," tegas Kepala IMA R.V. Asokan dalam pernyataannya.

IMA menyebut pembunuhan itu sebagai aksi biadab. "Tugas sif selama 36 jam yang dijalani korban dan kurangnya tempat yang aman untuk beristirahat memerlukan perombakan menyeluruh terhadap kondisi tempat kerja dan kehidupan para dokter residen," tutur IMA.

Para dokter juga menuntut penerapan UU Perlindungan Pusat, sebuah UU untuk melindungi para tenaga kesehatan dari kekerasan. (dee/c17/tia)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore