
Photo
JawaPos.com - Lantaran harga gas dan listrik yang tinggi, juga sebagai akibat dari perang Rusia-Ukraina, hal ini menimbulkan ancaman serius bagi roda perekonomian di kawasan Uni Eropa (UE). Krisis energi berpotensi terjadi dan bakal menjadi masalah serius.
Kabar ini sebelumnya diungkapkan Komisaris UE untuk Energi Kadri Simson setelah melakukan pertemuan dengan para menteri energi Uni Eropa, Jumat (30/9) lalu.
"Keadaan harga gas dan listrik yang tinggi saat ini menanggung risiko kerugian produksi dan penutupan ribuan perusahaan Eropa," tulis Konfederasi Bisnis Eropa dalam surat terbuka kepada Kepala UE Ursula von der Leyen.
Sementara di sektor telekomunikasi, karena krisis energi, banyak negara yang mengadopsi langkah-langkah hemat energi di Eropa. Mengingat hal ini, Empat eksekutif jaringan mengatakan mereka takut akan musim dingin yang akan segera tiba.
Ini akan menguji keandalan jaringan Eropa. Selain itu, hal ini akan memaksa perusahaan dan pemerintah untuk mencari cara untuk mengurangi dampak tersebut.
Namun, banyak negara Eropa tidak memiliki sistem cadangan energi yang cukup. Mereka tidak bisa menangani pemadaman listrik besar-besaran. Ini dapat membuat banyak ponsel cerdas berpotensi kehilangan sinyal seluler.
Ada hampir 500.000 BTS komunikasi seluler di Eropa. Kebanyakan dari mereka, memiliki baterai cadangan hanya untuk penggunaan 30 menit. Setelah energi ini hilang, maka pengguna akan mengalami pemadaman sinyal secara massal.
Untuk mengantisipasi hal ini, negara-negara Uni Eropa termasuk Prancis, Swedia, dan Jerman bekerja untuk memastikan bahwa layanan komunikasi akan tetap beroperasi. Distributor listrik Prancis berencana untuk memutar pemadaman listrik di seluruh negeri.
Tujuannya agar pelayanan seperti rumah sakit, kantor polisi, dan kantor pemerintah tetap bisa berjalan lancar. Namun, jaringan seluler tidak ada dalam daftar jaminan catu daya.
Regulator Swedia mengatakan bakal membeli stasiun pangkalan dan generator portabel. Negara ini ingin tetap siap untuk apa pun yang terjadi dalam beberapa minggu mendatang.
Empat eksekutif jaringan lainnya menyatakan bahwa operator Eropa perlu merombak jaringan mereka. Tujuannya adalah untuk mengurangi konsumsi energi dan menggunakan sistem yang lebih hemat energi.
Untuk menghemat energi, operator akan menggunakan perangkat lunak untuk mengoptimalkan lalu lintas. Selain itu, mereka akan menempatkan BTS ke "sleep mode" dan mematikan pita frekuensi yang tidak digunakan.
Meski demikian, tentu saja kurangnya jaringan seluler akan memengaruhi lebih dari sekadar ponsel cerdas, tapi juga ekosistem digital lainnya yang membutuhkan koneksi internet.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
