Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 April 2026 | 23.12 WIB

ITS Kembangkan Bensin Sawit Rendah Emisi, Solusi Krisis Energi Indonesia?

Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengembangkan kelapa sawit menjadi BBM ramah lingkungan. (Humas ITS) - Image

Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengembangkan kelapa sawit menjadi BBM ramah lingkungan. (Humas ITS)

JawaPos.com - Departemen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan kelapa sawit menjadi alternatif bahan bakar atau bensin yang ramah lingkungan.

Inovasi ini disebut-sebut bisa menjadi solusi berkelanjutan di tengah tuntutan transisi energi hijau dan krisis energi global, akibat konflik di wilayah Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz oleh pemerintah Iran.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Bambang Pramujati, menyebut inovasi bensin sawit (Benwit) hasil riset tim ITS bisa mendukung pemerintah dalam menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Ini kesempatan bagi pemerintah Indonesia untuk mengembangkan sumber energi alternatif, di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” ujar Prof. Bambang di Surabaya, Kamis (9/4).

Menurutnya, inovasi bensin sawit ini menjadi bentuk dukungan akademisi, khususnya dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember terhadap energi terbarukan tanah air yang lebih efisien dan rendah emisi.

Di sisi lain, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Hosta Ardhyananta selaku ketua peneliti mengatakan inovasi ini berfokus pada pengurangan residu yang dihasilkan dari proses produksi BBM fosil.

“Fokus dari inovasi kami adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensi biogasoline yang siap digunakan,” ucap pakar di bidang polimer, komposit, dan nanomaterial ini.

Dalam pengembangannya, ITS menerapkan metode catalytic cracking, yaitu teknik yang memecah molekul berukuran besar menjadi lebih kecil dengan bantuan katalis. Proses awal memakai katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) sebagai “gunting molekuler”.

Katalis tersebut berfungsi mengurai trigliserida dalam Crude Palm Oil (CPO) menjadi fraksi hidrokarbon ringan. Dengan metode ini, konversi biogasoline mencapai sekitar 60 persen, namun memerlukan suhu tinggi hingga 420° Celsius.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore