Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Oktober 2022 | 12.29 WIB

Iran Sebut Demonstrasi Isu Mahsa Amini Ditunggangi Teroris dan Fitnah

In this photo released by an official website of the office of the Iranian supreme leader, Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei speaks at a meeting in Tehran, Iran, Wednesday, Oct. 18, 2017. Khamenei on Wednesday urged Europe to do more to back the 2015 - Image

In this photo released by an official website of the office of the Iranian supreme leader, Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei speaks at a meeting in Tehran, Iran, Wednesday, Oct. 18, 2017. Khamenei on Wednesday urged Europe to do more to back the 2015

JawaPos.com - Dalam dua minggu terakhir, Iran dilanda kericuhan gelombang demonstrasi mengecam tewasnya Mahsa Amini sebagai buntut isu pemakaian jilbab. Atas kejadian itu, pihak Pemerintah Iran menyampaikan klarifikasi. Pemimpin Agung Republik Islam Iran Ayatullah Seyed Ali Khamenei angkat bicara. Ia menyebutkan ada sesuatu fitnah dan rencana jahat para musuh bangsa besar Iran di balik peristiwa itu.

Pemimpin Agung Republik Islam Iran dalam acara wisuda taruna sejumlah Akademi Militer, Angkatan Bersenjata Iran mengatakan kerusuhan dan kekacauan terbaru di Iran dirancang oleh negara-negara Barat dan Rezim Zionis, orang-orang bayaran mereka, serta beberapa orang Iran pengkhianat di luar negeri. Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan, rakyat Iran, dalam peristiwa ini bakal berada paling depan dalam mengadapi gangguan apapun.

Ayatullah Khamenei menganggap rakyat Iran layaknya junjungannya yaitu Imam Ali as, adalah rakyat yang tertindas, tapi pada saat yang sama adalah bangsa yang kuat.

"Dalam peristiwa yang baru saja terjadi, seorang perempuan muda (Mahsa Amini) meninggal dunia, dan ini membuat hati kita semua terbakar, akan tetapi reaksi atas peristiwa ini yang dilakukan tanpa penyelidikan dan tanpa ada kepastian terkait apa yang sebenarnya terjadi, lalu sebagian orang turun ke jalan membuat kekacauan, membakar Al Quran, mencopot paksa hijab seorang perempuan, membakar masjid, tempat ibadah, dan kendaraan masyarakat, ini bukanlah reaksi yang biasa dan normal," ungkapnya dalam keterangan resmi Kedutaan Besar Republik Islam Iran-Jakarta, Jumat (7/10).

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa kerusuhan terbaru di Iran sudah direncanakan sebelumnya. Menurutnya, jika tidak ada peristiwa meninggalnya perempuan muda itu, dalih lain akan dicari oleh pihak musuh agar kekacauan dan kerusuhan bisa diciptakan di Iran.

Ia juga menekankan bahwa belasungkawa negara-negara Barat atas meninggalnya seorang perempuan di Iran adalah dusta. Ia justru menuding Barat sebenarnya mereka gembira karena mendapatkan alasan untuk menciptakan insiden.

"Di Iran, pejabat tiga lembaga tinggi negara telah menyampaikan belasungkawa, dan Mahkamah Agung Iran sudah berjanji untuk mengusut kasus ini sampai akhir," tegas Ayatullah Khamenei.

Ditunggangi Teroris

Pemimpin Agung Iran itu menegaskan, beberapa orang yang turun ke jalan, adalah sisa-sisa oknum yang sebelumnya mendapatkan pukulan dari Republik Islam seperti kelompok teroris MKO, kelompok separatis, kelompok monarki, dan keluarga dinas intelijen Shah Iran yaitu Savak. Ia meminta Mahkamah Agung harus mengadili serta menghukum mereka sesuai tingkat keterlibatan dalam perusakan dan gangguan keamanan di jalan-jalan.

Ayatullah Khamenei menuturkan, skenario dan aksi musuh menunjukan batin mereka, yaitu permusuhan dengan bangsa dan negara Iran. Mereka berusaha menciptakan kerusuhan, menghancurkan keamanan negara, dan memprovokasi orang-orang yang mungkin bisa diprovokasi dengan sejumlah kegemparan.

"Mereka (pihak musuh) menginginkan Iran seperti masa Pahlavi (Shah Iran), yang selalu patuh pada perintah mereka," katq Ayatullah Khamenei.

Menurut Ayatullah Khamenei, banyak perempuan di Iran yang tidak mengenakan hijab secara sempurna, tapi merupakan pendukung serius Republik Islam Iran, dan mereka hadir di berbagai pentas untuk kemajuan negara.

"Pihak musuh tidak bisa melihat negara kami sebagai negara yang mandiri, kuat dan islami," katanya

Reaksi Presiden Iran

Demonstrasi dua pekan terakhir di Iran dinilai telah keluar dari koridor hukum dan menjadi aksi kerusuhan yang menjadikan masyarakat Iran sebagai korban utamanya. Aksi kerusuhan ini dengan alasan memprotes atas meninggalnya seorang gadis Iran (Mahsa Amini), membuat oknum bayaran dan teroris yang berafiliasi dengannya memanfaatkan kondisi saat ini untuk mengobarkan friksi, disintegrasi dan menciptakan perpecahan di tengah masyarakat Iran. Mereka berusaha membuat fitnah dan mengadu berbagai etnis dan lapisan masyarakat dengan pemerintah, padahal kasus kematian Mahsa Amini tengah dikaji oleh pihak yang berwenang dan hasilnya akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.

Presiden Iran, Yang Mulia Dr. Seyed Ebrahim Raisi menyebutkan bahwa peristiwa kerusuhan yang terjadi menjelaskan bahwa harus ada perbedaan yang jelas antara protes dan kerusuhan. Protes, kritik, dan ucapan yang menentang merupakan hal yang wajar dan harus didengar karena mendengarnya akan membantu pemerintah memperbaiki keadaan.

"Tetapi kerusuhan dan mengganggu keamanan negara serta melanggar hak masyarakat merupakan hal yang tidak dapat diterima dengan cara apapun di manapun di dunia," tegasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore