Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Juni 2022 | 21.31 WIB

Malaysia Kekurangan Jutaan Tenaga Kerja, Pemulihan Ekonomi Terancam

Photo - Image

Photo

JawaPos.com – Pemulihan ekonomi di Malaysia terancam. Penyebabnya adalah krisis tenaga kerja di negeri jiran. Baik tenaga kerja lokal maupun imigran. Sektor perhotelan hingga perusahaan sawit terdampak. Jika tidak segera diatasi, kerugiannya bisa mencapai miliaran dolar.

”Meskipun ada optimisme yang lebih besar dalam prospek dan peningkatan penjualan, beberapa perusahaan sangat terhambat untuk memenuhi pesanan,” ujar Presiden Federasi Produsen Malaysia Soh Thian Lai seperti dikutip The Straits Times. Federasi itu mewakili lebih dari 3.500 perusahaan.

Kurangnya tenaga kerja membuat produksi terganggu. Imbasnya, perusahaan-perusahaan terpaksa menolak pesanan. Mereka kini takut para pelanggan berpindah ke negara lain. Industri manufaktur selama ini berkontribusi pada seperempat perekonomian Malaysia.

Sejatinya, sejak Februari lalu, Malaysia mencabut moratorium rekrutmen tenaga kerja asing. Sayangnya, para pekerja migran tersebut tidak kunjung datang dalam jumlah besar seperti harapan perusahaan-perusahaan.

Itu disebabkan persetujuan pemerintah yang dirasa lambat. Selain itu, negosiasi berkepanjangan dengan negara lain. Misalnya, dengan pemerintah Indonesia dan Bangladesh mengenai perlindungan pekerja. Keduanya merupakan penyumbang pekerja migran terbesar di Malaysia.

Malaysia bergantung pada buruh migran untuk pekerjaan pabrik, perkebunan, dan sektor jasa yang dihindari para pekerja lokal. Wilayah itu dianggap kotor, berbahaya, serta sulit. Malaysia kekurangan setidaknya 1,2 juta pekerja.

”Situasinya mengerikan. Ibaratnya main sepak bola melawan 11 orang, tapi hanya diizinkan memainkan 7 orang,” kata Direktur Eksekutif Penanaman Kelapa Sawit United Plantations Carl Bek-Nielsen.

Sektor pembuatan cip juga kekurangan 15 ribu pekerja. Mereka terpaksa menolak pesanan meski permintaan global sedang tinggi. Presiden Asosiasi Industri Semikonduktor Malaysia Wong Siew Hai mengungkapkan bahwa penduduk lokal tidak tertarik dengan industri itu. Kalaupun ada yang melamar, mereka biasanya berhenti setelah enam bulan bekerja.

Para pengusaha berharap pemerintah bertindak cepat. Sebab, kerugian sudah di depan mata. Industri minyak kelapa sawit memprediksi kehilangan 3 juta ton panen tahun ini. Itu disebabkan buahnya busuk akibat tidak kunjung dipetik. Kerugiannya bisa mencapai USD 4 miliar (Rp 58,8 triliun). Industri tersebut menyumbang 5 persen perekonomian Malaysia.

Di industri sarung tangan karet, perkiraan pendapatan yang hilang tahun ini USD 700 juta (Rp 10,29 triliun) akibat kekurangan tenaga kerja.

Sektor wisata juga mengalami krisis. Di tengah pembukaan perbatasan dan aliran turis yang mulai masuk, perhotelan justru kewalahan karena kekurangan pegawai.

Para turis kini mulai berdatangan ke kota-kota wisata seperti Langkawi, Penang, Port Dickson, Ipoh, dan Melaka. Di Penang, hampir semua hotel membuka lowongan pekerjaan tiap pekan. Baik di media sosial maupun portal pencarian kerja. Rata-rata ada lebih dari 10 posisi yang dibutuhkan.

Banyak pekerja yang diberhentikan ketika Malaysia lockdown di awal pandemi. Ketika kini dihubungi untuk bekerja lagi, mereka menolak. Di Johor, para pekerja perhotelan itu memilih bekerja di Singapura. Sebab, nilai tukar dolar Singapura lebih tinggi daripada ringgit. Akses Johor–Singapura juga cukup dekat dan bisa ditempuh dengan bus.

Pariwisata adalah salah satu penghasil pendapatan utama Malaysia. Ia menyumbang MYR 86,14 miliar atau setara Rp 287,4 triliun bagi perekonomian negara.

Pada 2019 sebelum pandemi, ada 26,1 juta wisatawan asing yang berkunjung ke negara tersebut. Saat ini mereka juga butuh pekerja migran.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore