Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Desember 2023 | 20.47 WIB

Bukan Gaza, Diam-Diam Ada Genosida yang Terlupakan di Kongo

Lokasi pengungsian di Kivu Utara. - Image

Lokasi pengungsian di Kivu Utara.

JawaPos.com - Kongo berpotensi menjadi salah satu negara kaya. Namun, kolonialisme dan konflik paling berdarah sejak Perang Dunia II telah mengubah Kongo menjadi salah satu negara termiskin dan paling gagal.

Konflik pemberontak yang sangat jarang disorot media selama bertahun-tahun, dan bencana alam yang berulang di Kongo, turut memicu terjadinya krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Sekitar enam juta orang tewas selama beberapa dekade pemberontakan. Tujuh juta lainnya yang terdiri dari perempuan dan anak-anak diperkosa dan dieksploitasi untuk kerja paksa di pertambangan.

"Dengan konflik yang sedang berlangsung dan meningkatnya kekerasan, Kongo menghadapi salah satu krisis kemanusiaan dan pengungsian internal terbesar di dunia," kata Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB yang dilansir dari Trtafrika.com.

Konflik ini merupakan hasil dari sejarah Kongo yang kacau dan juga campur tangan negara-negara Barat pasca-kolonial. Pemberontak mulai bermunculan dan menguasai kekayaan mineral Kongo, terutama emas dan berlian.

Kelompok militan M23 adalah pemberontak paling besar di Kongo. Kelompok tersebut diduga mendapat asupan dari negara Rwanda. Pemberontak M23 menguasai sebagian wilayah bagian timur negara Kongo.

Menurut Matriks Pelacakan Pengungsi Organisasi Internasional untuk Migrasi (DTM), terdapat 2,3 juta orang mengungsi di Kivu Utara; 1,6 juta orang di Ituri; 1,3 juta di Kivu Selatan; dan lebih dari 350.000 orang lainnya mengungsi di Provinsi Tanganyika.

Pemberontakan juga berdampak parah pada aspek kesehatan dan penularan penyakit di Kongo. DRC melaporkan jumlah kasus dugaan kolera dan kematian tertinggi di kawasan Afrika Barat dan Tengah terjadi di Kongo.

Gerakan M23 sempat tidak aktif selama hampir satu dekade sebelum melancarkan serangan terbarunya, dan merebut wilayah penting negara Kongo, yakni Rutshuru, Masisi, dan Nyiragongo di Kivu Utara sejak tahun lalu.

Pertempuran disertai tembakan artileri berat kembali meningkat sejak awal oktober 2023 di beberapa wilayah Kongo, seperti di Goma, Kibumba, Taman Nasional Virunga, Buhumba, Kitshanga, Bambo dan masih banyak wilayah lainnya.

Kecurigaan global terhadap campur tangan Rwanda untuk membantu pemberontak M23 dalam perang yang sedang berlangsung di wilayah timur Kongo pun semakin meningkat.

Meski begitu, tuntutan masyarakat Kongo terhadap keadilan dan akuntabilitas selama puluhan tahun peperangan pemberontak berlangsung, masih belum terjawab oleh komunitas internasional.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore