Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 November 2023 | 01.27 WIB

WHO Peringatkan Bahaya Kesehatan yang Terus Meningkat di Jalur Gaza

Dokter Palestina, Hassan Zain al Din, memberikan perawatan terhadap seorang anak yang mengungsi pada Oktober 2023. (Sumber: REUTERS/Ahmed Zakot) - Image

Dokter Palestina, Hassan Zain al Din, memberikan perawatan terhadap seorang anak yang mengungsi pada Oktober 2023. (Sumber: REUTERS/Ahmed Zakot)

JawaPos.com - Jalur Gaza tengah menghadapi peningkatan risiko penyebaran penyakit akibat pemboman udara Israel yang telah mengganggu sistem kesehatan, akses terhadap air bersih, dan menyebabkan orang berkerumun di tempat penampungan, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (8/11).

"Ketika kematian dan cedera di Gaza terus meningkat akibat meningkatnya intensitas penyerangan, kepadatan penduduk yang berlebihan dan terganggunya sistem kesehatan, air, dan sanitasi menimbulkan bahaya tambahan, yakni penyebaran penyakit menular yang cepat,” kata WHO.

"Beberapa tren yang mengkhawatirkan sudah mulai muncul," imbuh WHO.

Dikatakan bahwa kekurangan bahan bakar di daerah padat penduduk telah menyebabkan pabrik desalinasi ditutup, yang meningkatkan risiko penyebaran infeksi bakteri seperti diare.

Meskipun pengiriman makanan, air dan obat-obatan ke Gaza sangat terbatas, Israel menolak memberikan bahan bakar karena kekhawatiran tentang kemungkinan pengalihan oleh Hamas meskipun ada seruan dari PBB dan kelompok bantuan kemanusiaan.

WHO mengatakan lebih dari 33.551 kasus diare telah dilaporkan sejak pertengahan Oktober, sebagian besar terjadi pada anak balita.

Dikatakan bahwa jumlah anak yang terkena dampak menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan rata-rata 2.000 kasus setiap bulan pada kelompok usia tersebut sepanjang 2021 dan 2022.

Kurangnya bahan bakar juga mengganggu pengumpulan limbah padat, yang menurut WHO menciptakan 'lingkungan yang kondusif bagi perkembangbiakan serangga, hewan pengerat yang dapat membawa dan menularkan penyakit secara cepat dan luas'.

Dikatakan bahwa 'hampir mustahil' bagi fasilitas kesehatan untuk mempertahankan tindakan dasar pencegahan infeksi, sehingga meningkatkan risiko infeksi para korban yang disebabkan oleh trauma, pembedahan, dan persalinan.

"Terganggunya kegiatan vaksinasi rutin, serta kurangnya obat-obatan untuk mengobati penyakit menular, semakin meningkatkan risiko percepatan penyebaran penyakit," ujar pihak WHO.

Editor: Nicolaus
Sumber: Reuters
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore