Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 November 2023 | 13.23 WIB

Tak Mau Keluar Uang! Petani India Nekat Lakukan Pembakaran Lahan Meski Kesehatan Jadi Taruhannya

Pembakaran lahan di India masih terus dipraktekkan meskipun daerah di sana termasuk ibu kotanya, New Delhi mengalami polusi udara yang sangat pekat.

JawaPos.com - Petani kecil asal India, Aashish Sharma dikabarkan nekat membakar tunggul tanaman dalam beberapa hari terakhir meski sudah menyadari dampak terhadap kualitas udara di sekitar.

Padahal diketahui, kualitas udara di desa Sharma di negara bagian Haryana, India, disebutkan sangat buruk sampai-sampai beberapa orang penderita asma kesulitan bernapas.
 
Selain itu, salah seorang warga di sana yang tak lain paman Aashish, disebutkan sampai memerlukan nebuliser untuk memompa obat langsung ke paru-parunya.
 
"Kami tahu pembakaran jerami berbahaya, khususnya bagi kesehatan orang tua dan anak-anak kami," kata Aashish Sharma, 22, di desanya di Karnal, yang terkenal dengan penanaman padi dan gandum dikutip dari Reuters.
 
Namun bagi petani Aashish, satu-satunya alternatif selain membakar sisa tanaman adalah dengan mengantri menyewa mesin untuk membersihkan lahannya, yang akan menghabiskan biaya sekitar USD 100 atau sekitar Rp 1,5 juta untuk lahan seluas empat hektarnya.
 
Rata-rata waktu tunggu untuk menyewa mesin adalah sekitar dua minggu. Membeli satu unit dengan harga hampir 300.000 Rupee atau sekitar Rp 56 juta tidak terjangkau bagi petani kecil di desa tersebut, kata mereka, dilansir dari Reuters.
 
 
Lebih dari 85 persen petani India dikategorikan sebagai petani kecil, artinya, seperti Sharma, mereka memiliki lahan seluas empat hektar atau kurang. Secara keseluruhan, mereka menguasai 47 persen lahan pertanian di negara tersebut, menurut data pemerintah.
 
Penduduk di Delhi dan daerah sekitarnya di negara bagian Haryana, Uttar Pradesh dan Punjab mengalami salah satu udara paling kotor di dunia dalam seminggu terakhir, menurut data dari Dewan Pengendalian Polusi Pusat (CPCB).
 
Delhi telah menutup sekolah dasar dan membatasi lalu lintas jalan raya, sementara pemain kriket internasional di kota itu absen pada latihan menjelang pertandingan Piala Dunia Kriket pada Senin (6/11).
 
Pembakaran tunggul di Punjab dan Haryana biasanya menyumbang 30-40 persen polusi di Delhi pada Oktober-November, menurut badan pemantau kualitas udara pemerintah SAFAR.
 
Sebagai respons terhadap insentif dan denda pemerintah, jumlah kebakaran telah menurun sebesar 40-50 persen tahun ini dibandingkan tahun lalu, menurut perkiraan pemerintah, namun hampir selusin petani di tiga desa Karnal mengatakan bahwa mereka akan terus melakukan pembakaran, dikutip dari laporan Reuters.
 
"Sejauh ini tidak ada seorang pun di desa kami yang didenda meskipun banyak yang membakar tunggul," kata Dharamvir Singh, seraya menambahkan bahwa dia telah membuka lahan seluas sepuluh hektar dengan cara itu dan akan melakukan hal yang sama untuk 10-15 hektar lainnya yang dimiliki dan disewakan.
 
"Saya batuk setiap hari dan merasakan iritasi pada mata, namun saya lebih memilih untuk minum obat atau minum di malam hari daripada mengeluarkan biaya tambahan," ujarnya.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore