
Photo
JawaPos.com - Obat tradisional Tiongkok atau TCM masih dipercaya bisa menyembuhkan penyakit sebagai alternatif pengobatan medis. Bukan hanya yang legal, pengobatan TCM juga banyak beredar lewat perdagangan ilegal. Salah satunya berupa plasenta atau biasa disebut sebagai ari-ari bayi yang dijual di pasar gelap.
Plasenta segar manusia masih diminati karena banyak orang yang percaya dengan khasiat penyembuhannya. Baik dimasak, dimakan segar, atau diolah untuk bisnis dan dijual sebagai obat tradisional Tiongkok (TCM). Bagi banyak orang di Tiongkok daratan, ini diyakini sebagai pengobatan yang sah bagi mereka yang sistem kekebalannya lemah, pengobatan tuberkulosis dan hipotermia, serta kesehatan reproduksi.
Menurut South China Morning Post (SCMP), perdagangan ilegal plasenta biasanya terjadi di Bozhou di Anhui, Pizhou di Jiangsu, dan Yongcheng di Henan. Placenta dikumpulkan sekitar USD 12,30 dari rumah sakit, pabrik limbah medis, dan rumah duka. Laporan juga mengatakan bahwa perdagangan ilegal ini tidak diperiksa untuk kemungkinan infeksi organ yang dapat terkontaminasi dengan hepatitis B, HIV, atau sifilis.
Baca juga: Seperti Tiongkok, Taiwan Temukan Obat Manjur untuk Pasien Covid-19
Dilansir dari Science Times, Kamis (18/3), pedagang plasenta manusia segar di Tiongkok membeli plasenta dengan bau darah yang kuat dari rumah sakit, rumah duka, dan perawatan limbah medis. Lalu menjualnya ke toko-toko secara ilegal. Beberapa diolah menjadi pil dan dijual di situs belanja menurut The Standard. Seorang pengecer menjual plasenta seharga 360 yuan tetapi dapat memotong harganya menjadi 260 yuan jika pembeli mau memborongnya. Pengecer mengatakan bahwa mereka membeli plasenta seharga 2.000 yuan per kilogram.
Dokter kandungan Rumah Sakit Rakyat Keenam Shanghai, Huang Chengsheng, yang memiliki pengalaman enam tahun, mengatakan bahwa rumah sakit di Tiongkok mengembalikan plasenta kepada ibu atau membuangnya sebagai limbah medis jika para ibu tidak menginginkannya. Tapi Huang mengatakan bahwa banyak ibu sering memilih untuk membawa pulang plasenta mereka dan memakannya. Memakan plasenta bayi merupakan kebiasaan yang lazim di kalangan masyarakat Tionghoa, terutama lansia. Karena diyakini kaya akan nutrisi dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Sedangkan bagi mereka yang merasa tidak nyaman memakan plasenta bayi yang masih segar dapat memilih untuk mengolahnya menjadi kapsul.
Beberapa orang menawarkan layanan door to door bagi keluarga yang baru saja melahirkan untuk memproses plasenta. Terlepas dari klaim yang dibuat oleh banyak orang tentang makan plasenta manusia, dokter kandungan Lin Xiu di Rumah Sakit Reproduksi Daerah Otonomi Guangxi Zhuang menolak klaim tentang manfaat kesehatan plasenta. Dia memperingatkan bahwa dengan menggunakan metode memasak konvensional, plasenta tidak dapat membunuh virus di dalamnya, sesuai laporan International Business Times.
"Sebab jika ibu terkena penyakit menular, plasenta juga akan membawa virus," kata Lin.
“Oleh karena itu, makan plasenta segar dapat menularkan penyakit menular kepada siapa pun yang mengkonsumsinya. Makan plasenta manusia bisa berbahaya bagi kesehatan, bukan menguntungkan," tutup Lin.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://youtu.be/VjnHTR4fugI

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
