Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Oktober 2023 | 03.24 WIB

Tiongkok akan Adakan Survei Populasi Nasional setelah Alami Penurunan Angka Kelahiran

Seorang gadis tengah duduk bersama ayahnya di sebuah taman di Shanghai, Tiongkok. - Image

Seorang gadis tengah duduk bersama ayahnya di sebuah taman di Shanghai, Tiongkok.

JawaPos.com–Biro Statistik Nasional Tiongkok akan melakukan survei sampel secara nasional pada November. Itu untuk membantu merencanakan kebijakan kependudukan dengan lebih baik dari pihak berwenang untuk meningkatkan angka kelahiran yang menurun di negara tersebut.

Prihatin dengan penurunan populasi pertama di Tiongkok dalam enam dekade dan penuaan yang cepat, Beijing segera mencoba serangkaian langkah untuk meningkatkan angka kelahiran di negara tersebut. Termasuk, insentif keuangan dan meningkatkan fasilitas penitipan anak.

Cakupan survei mengenai perubahan populasi akan fokus pada wilayah perkotaan dan pedesaan di seluruh negeri, menurut laporan media pemerintah pada Selasa (10/10) dilansir dari Reuters.

”Rencana ini akan membantu memantau perubahan perkembangan populasi di Tiongkok secara akurat dan tepat waktu dan memberikan dasar bagi Partai Komunis dan pemerintah untuk merumuskan kebijakan ekonomi nasional, pembangunan nasional, dan kebijakan terkait kependudukan,” kata biro tersebut.

Tiongkok terakhir kali melakukan sensus penduduk sekali dalam satu dekade pada November 2020. Hasilnya menunjukkan bahwa Tiongkok mengalami pertumbuhan paling lambat sejak survei populasi modern pertama pada 1950-an. Jumlah orang yang akan disurvei tidak ditentukan.

Survei itu akan berlangsung mulai 1 November ketika lembaga survei pemerintah akan mendatangi beberapa rumah tangga untuk mengumpulkan data atau meminta responden mengisi pertanyaan secara online.

Perkembangan populasi sering dikaitkan dengan kekuatan dan peremajaan suatu negara di tengah menurunnya angka kelahiran dan meluasnya kekhawatiran warga mengenai kesulitan membesarkan anak. Biaya penitipan anak yang tinggi dan keharusan berhenti berkarir telah membuat banyak perempuan enggan mempunyai anak lagi atau bahkan tidak punya anak sama sekali.

Diskriminasi gender dan stereotipe tradisional mengenai perempuan yang mengasuh anak masih tersebar luas di seluruh negeri. Pihak berwenang dalam beberapa bulan terakhir telah meningkatkan retorika mengenai pembagian tugas mengasuh anak, namun cuti ayah masih terbatas di sebagian besar provinsi.

Negara itu melaporkan penurunan jumlah penduduk sekitar 850.000 orang dari populasi 1,4 miliar jiwa pada 2022, yang menandai penurunan pertama sejak 1961, tahun terakhir terjadinya kelaparan besar di Tiongkok.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore