Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Januari 2020 | 18.13 WIB

Konflik dengan Iran, AS Tak Dapat Dukungan Sekutu

Iranian mourners hold posters of slain top general Qasem Soleimani during the final stage of funeral processions in his hometown Kerman on January 7, 2020. - Soleimani was killed outside Baghdad airport on January 3 in a drone strike ordered by US Preside - Image

Iranian mourners hold posters of slain top general Qasem Soleimani during the final stage of funeral processions in his hometown Kerman on January 7, 2020. - Soleimani was killed outside Baghdad airport on January 3 in a drone strike ordered by US Preside

JawaPos.com – Pemerintah AS makin tak konsisten terkait dengan sikap mereka menghadapi ancaman Iran di wilayah Timur Tengah. Setiap instansi dan pejabat punya sikap berbeda-beda. Ancaman Presiden AS Donald Trump pun jadi lemah. Terlebih, sekutu-sekutu AS juga tak ingin turut campur dengan masalah Iran.

Senin lalu (6/1) surat dari koalisi militer AS diterima Kementerian Pertahanan Iraq. Isinya mengejutkan. Surat yang ditandatangani Brigjen William Seely, komandan tentara AS di Iraq, tersebut berisi respons AS terhadap resolusi parlemen Iraq. Mereka menyatakan, tentara AS sedang berkemas untuk bersiap keluar dari Iraq.

’’Kami akan berpindah dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan operasi keluar dari Iraq berjalan efisien dan aman,’’ tulis militer AS seperti yang dilansir The Guardian.

Beberapa jam kemudian, Menteri Pertahanan AS Mark Esper buru-buru menganulir surat tersebut. Menurut dia, pemerintah AS belum memutuskan respons atas permintaan pemerintah Iraq untuk menutup markas militer AS.

Begitu pula Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Mark Milley. Dia menegaskan bahwa surat itu sebenarnya masih berupa draf. Namun, staf militer melakukan kesalahan dengan mengirimkan surat tersebut. ’’Isi surat itu bukanlah apa yang terjadi sebenarnya,’’ ungkapnya.

Jelas, elite pemerintahan AS pun panik. Sebab, surat tersebut sangat bertentangan dengan sikap pemerintah AS selama ini. Terutama sikap kepala negara Donald Trump. Presiden AS berkali-kali menegaskan bahwa militer AS tak akan angkat kaki dari Iraq sebelum mendapat imbalan setimpal.

Namun, error di sistem pemerintahan dan militer AS menunjukkan bahwa Negeri Paman Sam sedang panik. Sebab, AS benar-benar terkucil kali ini. Tidak ada negara lain yang mau terlibat dalam konflik antara AS dan Iran.

Negara-negara di Eropa menyatakan bahwa AS melakukan kesalahan. Arab Saudi, sekutu AS di Timur Tengah, menegaskan, serangan yang membunuh Panglima Pasukan Khusus Iran Qasem Soleimani dilakukan tanpa koordinasi. Bahkan, pemerintah Israel yang biasanya mati-matian membela AS ikut mundur.

’’Pembunuhan Soleimani adalah agenda Amerika. Kami tidak terlibat dan kami tak seharusnya diseret,’’ ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Negara-negara lain jelas menjauh begitu mengetahui sikap Trump yang keterlaluan. Komentar Trump yang menyatakan AS siap menyerang aset budaya Iran dianggap ngawur. Sebab, warisan budaya merupakan salah satu isu sensitif dalam peperangan. Pada 2017 AS dengan banyak negara lain menandatangani resolusi PBB tentang perlindungan warisan budaya.

Sementara itu, Iran masih berada dalam masa berkabung Soleimani. Kemarin jenazah Soleimani tiba di kampung halaman di Kerman untuk dikuburkan. Iring-iringan pembawa peti mati disambut jutaan orang. Setidaknya 35 orang tewas karena sesaknya kerumunan penonton.

KEKUATAN AS DI TIMUR TENGAH
Afghanistan: 14 ribu tentara AS dan 8 ribu tentara NATO.

Bahrain: 7 ribu tentara AS ditugaskan untuk mengamankan Teluk Persia. Berbasis di Shaykh Isa Air Base dan Khalifa Ibn Salman Port.

Iraq: 5.200 tentara AS yang ditugaskan untuk melawan ISIS.

Jordania: 2.795 tentara AS untuk menghalau ISIS dan menstabilkan keamanan regional.

Kuwait : 13 ribu tentara AS bersiaga di bawah komando U.S. Army Central. Tersebar di Camp Buehring, Ali al-Salem Air Base, Camp Arifjan, Camp Patriot, dan Shaykh Ahmad al-Jabir Air Base.

Qatar: 13 ribu tentara AS untuk mendukung pembasmian terorisme Timur Tengah. Bermarkas di Al Udeid Air Base dan Camp As Sayliyah.

Arab Saudi: 3 ribu tentara AS direncanakan ditempatkan di sana untuk melindungi Saudi dari serangan Iran.

Syria: 800 tentara yang tinggal untuk mengamankan kilang minyak.

Uni Emirat Arab: 5 ribu tentara AS yang bersiaga di dekat Selat Hormuz. Tersebar di Al Dhafra Air Base, Port of Jebel Ali, dan Fujairah Naval Base.

Sumber: Axios

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore