
Rusia akan mengembangkan dua sistem rudal berbasis darat sebelum 2021. Pengembangan ini dilakukan untuk menanggapi rencana keluarnya Washington dari perjanjian kontrol senjata nuklir, Intermediaten range Nuclear Forces Treaty (INF)
JawaPos.com - Rusia akan mengembangkan dua sistem rudal berbasis darat sebelum 2021. Pengembangan ini dilakukan untuk menanggapi rencana keluarnya Washington dari perjanjian kontrol senjata nuklir, Intermediaten range Nuclear Forces Treaty (INF).
Selama ini perjanjian Intermediate range Nuclear Forces Treaty (INF) melarang AS dan Rusia menempatkan rudal darat jarak pendek dan menengah di Eropa. Namun upaya keluarnya Presiden AS Donald Trump dari perjanjian itu membuat Presiden Rusia Vladimir Putin tak mau menahan diri lagi.
Moskow dan Washington saling menuduh telah melanggar perjanjian INF. Putin mengatakan, Rusia telah bertindak setelah Amerika Serikat mengumumkan pihaknya menarik diri dari pakta tersebut.
"Washington telah menjelaskan bahwa pihaknya merencanakan memulai penelitian, pengembangan, dan perancangan sistem rudal baru dan Moskow akan melakukan hal yang sama," kata Putin dilansir dari Reuters pada Rabu (6/2).
"Militer Rusia harus mulai bekerja untuk menciptakan sistem peluncuran berbasis darat untuk rudal jelajah yang diluncurkan oleh kapal, Kalibr, dan untuk rudal hipersonik jarak jauh yang melakukan perjalanan setidaknya lima kali kecepatan suara," katanya.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu memerintahkan pekerjaan untuk mulai mengembangkan sistem rudal baru dimulai. Shoigu, sekutu dekat Putin, mengatakan dia ingin pekerjaan itu selesai pada akhir tahun depan sehingga sistem baru siap pada 2021.
"Dari 2 Februari, Amerika Serikat menangguhkan kewajibannya di bawah perjanjian INF," kata Shoigu pada pertemuan para kepala pertahanan.
“Pada saat yang sama mereka secara aktif bekerja untuk membuat rudal darat dengan jangkauan lebih dari 500 km yang berada di luar batas perjanjian. Presiden Putin telah memberi tugas pada Kementerian Pertahanan untuk mengambil langkah-langkah simetris.”
Moskow membantah telah melanggar pakta 1987. Washington adalah pihak yang melanggarnya terlebih dulu.
Rusia menuduh Amerika Serikat menciptakan alasan palsu untuk keluar dari perjanjian yang ingin ditinggalkannya untuk mengembangkan rudal baru. Washington menyangkal hal itu.
Duta Besar Pelucutan Senjata AS Robert Wood mengatakan pada Konferensi Pelucutan Senjata di Jenewa, bahwa Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali penarikannya dari perjanjian INF jika Rusia kembali ke kepatuhan penuh pada perjanjian dan dapat diverifikasi.
"Ini adalah kesempatan terakhir Rusia untuk kembali pada kepatuhan," kata Wood.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
