Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Juni 2025 | 16.54 WIB

Di Tengah Persaingan AMDK, Perpamsi Kejar Mimpi Air PDAM Dapat Langsung Diminum dari Keran

IPAM PDAM Surya Sembada di Ngagel, Surabaya. (dok. Jawapos) - Image

IPAM PDAM Surya Sembada di Ngagel, Surabaya. (dok. Jawapos)

JawaPos.com - Sampai saat ini masih jadi misteri besar di kalangan masyarakat. Namanya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), tetapi hampir semua airnya tidak layak minum. Akibatnya pelanggan PDAM masih harus keluar biaya untuk kebutuhan air minum. Pengurus Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) menyampaikan jawaban atas kondisi itu. 

Ketua Umum Perpamsi Arief Wisnu Cahyono mengatakan publik bisa saja bermimpi punya layanan PDAM yang bisa langsung diminum seperti di Singapura atau Swiss. Namun, jika dikaitkan dengan kebutuhan air minum kemasan, konsumsi air minum kemasan di Singapura masih sangat tinggi. Meskipun air PDAM di sana sudah siap minum dari keran. 

Arief mengatakan mereka juga punya mimpi air PDAM dapat langsung diminum dari keran-keran pelanggannya. "Betul (mimpi kita) air PDAM benar-benar bisa diminum. Sekarang masih ada yang bilang (PDAM) itu air mandi, air mampet, dan lainnya," kata Arief di sela paparan kegiatan International Water and Wastewater Expo and Forum (IWWEF) 2025 di Jakarta pada Senin (9/6). 

Arief mengatakan tantangan pertama air PDAM supaya bisa diminum adalah kualitas pipanya. Jika ingin air PDAM bisa langsung diminum, maka pipanya harus diganti dengan yang steril dan memenuhi standar air minum. Sementara, saat ini pipa PDAM usianya sudah puluhan tahun. Bahkan ada yang sampai ratusan tahun, karena peninggalan penjajahan Belanda. 

Dia menjelaskan jaringan pipa PDAM di seluruh Indonesia saat ini mencapai 6.300 KM. Jika ingin diremajakan dengan pipa kualitas air minum, butuh biaya lebih dari Rp 10 triliun. Sementara itu tingkat penambahan pelanggan baru PDAM tiap tahunnya tidak seberapa besar. 

Faktor lain yang jadi pertimbangan supaya air PDAM layak minum adalah kualitas air bakunya. Air baku adalah bahan baku pengolahan PDAM. Arief mengatakan untuk di Swiss, kualitas air baku PDAM-nya benar-benar dijaga. Sehingga saat pengolahan sampai menjadi air layak minum, tidak butuh upaya dan biaya yang besar. 

Sementara di Indonesia kualitas air baku untuk PDAM jauh di bawah di Swiss. "Di Jakarta misalnya air bakunya dari Kalimalang. Bisa tahu sendiri bagaimana kualitas airnya di sana," tuturnya. Berbeda halnya ketika kualitas air baku bisa dijaga sejak dari hilirnya, maka mewujudkan air PDAM layak minum bukan hal yang mustahil. 

Sekretaris Umum Perpamsi Rino Indira Gusniawan mengatakan, di kalangan masyarakat sendiri juga masih ada kecenderungan tidak nyaman minum air langsung dari keran. "Karena belum terbiasa," tuturnya. Mereka lebih nyaman minum air kemasan atau air yang direbus. 

Apabila semua air PDAM tidak dapat diminum langsung, itu kurang tepat. Karena ada air PDAM di sejumlah titik di daerah tertentu yang sudah layak minum. Contohnya di Malang (Jawa Timur). Di sana air PDAM sudah siap minum, meskipun belum menyeluruh. 

Terkait dengan penyelenggaraan kegiatan IWWEF 2025 yang diselenggarakan di Jakarta pada 11-13 Juni depan, akan dibahas sejumlah persoalan air perpipaan. Termasuk target 100 persen masyarakat Indonesia mengakses air ledeng pada 2045 kelak. Termasuk juga mengenai regulasi air perpipaan yang sampai sekarang belum diatur di dalam undang-undang spesifik. (wan) 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore