Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Juni 2024 | 05.04 WIB

Tanggapan ATSI Ketika Luhut Sebut Indonesia Tidak Butuh BTS setelah Kehadiran Starlink

Sekjen ATSI Marwan O. Baasir di gedung XL Axiata, Senin (10/6). - Image

Sekjen ATSI Marwan O. Baasir di gedung XL Axiata, Senin (10/6).

JawaPos.com - Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menanggapi statemen Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan yang menyatakan Base Transceiver Station (BTS) tak dibutuhkan lagi untuk akses internet setelah kehadiran Starlink milik Elon Musk.

Sekjen ATSI Marwan O. Baasir menegaskan bahwa saat ini BTS sebagai menara untuk menghubungkan smartphone dengan sinyal telepon dan internet masih dibutuhkan. "Kalau lihat sekarang, nyatanya masih butuh BTS. Masih dibutuhkan masyarakat. Ban belum tersedia komunikasi yang mumpuni," kata Marwan ditemui JawaPos.com di kantor XL Axiata, Senin (10/6).

Marwan menyebut, konteks BTS tak dibutuhkan yakni untuk di pedesaan atau daerah yang sulit dijangkau akses internet.

ATSI menganggap saat ini berbagai teknologi telekomunikasi harus saling melengkapi agar bisa menjangkau daerah yang sebelumnya sulit diakses oleh operator telekomunikasi. Sebab, sebelumnya untuk membangun infrastruktur telekomunikasi membutuhkan biaya tinggi. Terutama untuk di daerah 3T atau (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

"ATSI berdampingan industri yang ada sekarang. Starlink itu pelengkap untuk backhaul, karena nggak mungkin kalau langsung tersedia 100 persen," sambung Marwan.

Sebagai informasi, Starlink beroperasi menggunakan layanan internet satelit yang sudah ada selama beberapa dekade ini. Secara teknis, Starlink menggunakan Low Earth Orbit (LEO) dan tidak menggunakan teknologi kabel, seperti serat optik untuk mengirimkan data internet.

Sistem satelitnya menggunakan sinyal radio melalui ruang hampa. Setiap satelit di konstelasi Starlink memiliki berat sekitar 259 kg dan memiliki badan datar. Saat diluncurkan, satu roket SpaceX Falcon 9 dapat mengangkut hingga 60 satelit.

Starlink sudah masuk ke Indonesia sejak Juni 2022. Saat itu Starlink hanya melayani pelanggan korporasi karena menjadi backhaul Telkomsat, anak perusahaan Telkom. Pada Mei 2024, Starlink memperluas cakupan bisnisnya dengan menyasar pelanggan ritel.

Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, setelah ada Starlink BTS tak dibutuhkan lagi untuk akses internet. “Sekarang enggak perlu ada BTS, sudah ada Starlink. Buat apa lagi,” kata Luhut baru-baru ini.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore