
JAGA TRADISI: Suasana Kampung Naga yang terletak tak jauh dari jalur Garut-Tasikmalaya (15/4). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
INILAH salah satu ”bonus” melintas di jalur Garut–Tasikmalaya, Jawa Barat: Kampung Naga. Bisa beristirahat sekaligus menyaksikan bagaimana keteguhan peradaban bertahan menghadapi terjangan zaman.
Letaknya persis di pinggir jalan. Masuk wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kampung tempat budaya dan tradisi Sunda dijaga secara persisten itu berada di tengah-tengah antara Garut dan Tasikmalaya. Persis di perbatasan dua daerah tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 saat Jawa Pos tiba di sana pada Jumat (15/4) pekan lalu. Langit masih terang walau mendung sudah tampak. Harus turun 439 tangga dari tempat parkir untuk menuju kampung yang berada di lembah itu.
Tapi, cukup turun separonya saja mata sudah dimanjakan deretan rumah panggung dari kayu yang tertata rapi berbalut dengan keindahan lembah. Benar-benar pengobat lelah setelah melintasi jalur selatan Jawa Barat.
”Kalau pas mudik Lebaran, biasanya ramai sekali. Parkiran penuh,” kata Ade Sutendi, salah seorang warga kampung yang bertetangga dengan Kampung Naga.
Ketimbang jalur pantai selatan (pansela) Jawa yang masih sulit diakses, rute utama di jalur selatan jauh lebih menjanjikan. Begitu keluar Gerbang Tol Cileunyi, tinggal mengikuti jalur tersebut sampai tujuan.
Meski masih ada kekurangan di sana-sini, kualitas jalannya bagus. Tidak ada yang berlubang di sepanjang jalan dari Bandung sampai Tasikmalaya.
Pengguna hanya perlu lebih hati-hati karena jalannya berkelok dan banyak tikungan tajam. Juga harus lebih sabar lantaran jalur tersebut tidak lebar.
Saat Jawa Pos melintas di rute Bandung–Tasikmalaya melalui Gentong pada Sabtu (9/4) dua pekan lalu, arus lalu lintas masih sangat lancar. Kendaraan dari Bandung maupun sebaliknya bisa melaju tanpa kendala.
Di titik itu, Polres Tasikmalaya Kota akan membangun posko mudik. Secara keseluruhan, ada sepuluh pos pengamanan yang disiapkan Polres Tasikmalaya Kota. Kemudian, ada dua pos terpadu. ”Satu di Pos Gentong, satu lagi di pos taman kota,” ungkap Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Tasikmalaya Kota AKP Engkos Kosasih kepada Jawa Pos.
Lantaran tidak ada jalur alternatif, untuk pemudik yang sudah terjebak macet di Gentong, Polres Tasikmalaya Kota juga menyiapkan kantong-kantong parkir. Fasilitas itu bisa dipakai para pemudik untuk beristirahat sambil menunggu arus lalu lintas kembali lancar.
Untuk skema-skema tertentu seperti buka tutup jalur atau one way, pelaksanaannya dilakukan setelah koordinasi dengan aparat kepolisian di daerah lain. Mulai Polres Garut, Polres Tasikmalaya Kabupaten, sampai Polres Ciamis dan Polres Banjar.
Sebab, jalur selatan memang melalui jalan-jalan yang berada di wilayah hukum polres-polres tersebut. Apalagi jika opsi buka tutup atau one way dilakukan mulai Simpang Nagreg.
Koordinasi di antara mereka harus padu. Dari titik tersebut, kendaraan pemudik bisa diarahkan untuk melalui jalur Bandung–Garut dan Garut–Tasikmalaya melalui pusat kota yang dikenal dengan sebutan Swiss van Java itu.
Dari Nagreg, pemudik akan diminta masuk Garut melalui Leles hingga sampai di Garut Kota. Kemudian masuk ke jalur Garut–Tasikmalaya lewat Salawu tempat Kampung Naga berada.
Tapi, hati-hati, di jalur itu, ada titik rawan longsor.
”Kami siapkan alat berat yang bisa melakukan evakuasi,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Tasikmalaya Kabupaten AKP Ryan Faisal.
Serupa dengan rute Gentong, di rute Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, juga disiapkan kantong-kantong parkir yang bisa digunakan pemudik apabila terjadi gangguan arus lalu lintas. Lepas dari Salawu, pengguna jalan hanya perlu hati-hati ketika memasuki daerah Singaparna.
Sebab, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya itu selalu ramai. Khususnya di siang hari. ”Banyak pertokoan yang jaraknya tidak jauh dari jalan,” terang Ryan.
Jika sudah lewat Singaparna, pemudik bakal masuk pusat kota Tasikmalaya. Dari sana, mereka akan punya lebih banyak opsi.
Meneruskan perjalanan lewat rute mainstream ke Ciamis, Banjar, Banjarsari, dan seterusnya. Atau masuk ke selatan Tasikmalaya untuk menyusur jalur lintas pansela dari Tasikmalaya sampai Pangandaran yang bisa diteruskan sampai Cilacap di Jawa Tengah.
Jawa Pos sudah menjajal semua rute tersebut. Baik rute mainstream maupun jalur lintas pansela. Dua rutenya mirip. Jalan kecil, berkelok, dan naik turun. Namun, jangan khawatir dengan kualitas jalan. Semua dalam keadaan baik. Tidak ada jalan rusak yang berpotensi membuat laju kendaraan melambat.
Hanya, untuk jalur lintas pansela, sebaiknya melintas di siang hari. Sebab, tidak hanya minim fasilitas penerangan jalan umum, fasilitas penunjang seperti stasiun pengisian bahan bakar umum juga belum banyak.
Dengan melintas di siang hari, pemudik juga bisa mendapat bonus pemandangan pantai. Di beberapa titik, laut selatan Jawa bersebelahan dengan jalan raya.
Sebagaimana juga jika mampir ke Kampung Naga, mampirlah selagi hari terang. Sebab, tak ada listrik di sana. Bukan karena jauh dari sumber listrik. Melainkan karena masyarakatnya memilih untuk tetap bertahan dengan warisan leluhur mereka.
Menyaksikan keteguhan yang telah bertahan sangat lama di tengah gempuran zaman itu saja sudah bisa menjadi oase berharga dalam perjalanan menuju kampung halaman.
Photo
SEKALIGUS WISATA: Foto udara kendaraan yang melintas di Jalan Raya Ciparanti, Pangandaran, Jawa Barat (14/4). Jalur lintas pantai selatan Jawa ini adalah jalur alternatif mudik. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
