
Raditya Dika dan Lutfi Afansyah dalam podcast penuh insight dan humor membahas dunia KOL. (Youtube Raditya Dika)
JawaPos.com - Raditya Dika bersama Lutfi Afansyah membahas seluk-beluk dunia KOL (Key Opinion Leader) dan industri content creation dalam sebuah episode podcast yang tayang pada 8 Mei lalu. Hingga 9 Mei pukul 10:17 WIB, episode ini telah ditonton sebanyak 199.608 kali, memperoleh lebih dari 7 ribu likes, serta 778 komentar dari para pendengar yang antusias.
Salah satu topik menarik yang mereka bahas adalah bahasa khas yang digunakan dalam dunia KOL dan agensi, yang disebut sebagai "corporate voice". Dalam dunia ini, banyak istilah unik yang berkembang sebagai bagian dari komunikasi sehari-hari antara brand, agensi, dan KOL.
Bahasa Gaul Dunia KOL
Contohnya, kata “huhu” yang sering digunakan saat negosiasi sebagai bentuk ekspresi kesedihan yang “modest”, namun tetap profesional. Istilah ini bukan hanya sekadar ekspresi, tapi sudah menjadi bagian dari nada komunikasi khas industri.
Ada pula istilah seperti:
Hanupis: singkatan dari hatur nuhun pisan (terima kasih banyak).
Hanuget: kependekan dari hatur nuhun banget.
Punten: digunakan saat KOL menghubungi agensi, dianggap lebih sopan dan netral dibanding “maaf”, karena “punten” tidak terdengar terlalu apologetik.
Janji-janji tukang jahit: sindiran yang menggambarkan proses follow-up dari agensi ke brand terkait pembayaran atau revisi konten yang sering tertunda—mirip dengan pengalaman menjahit baju yang tak kunjung jadi. Tidak Ada Benchmark, Semua Bisa Dinegosiasi
Raditya dan Lutfi juga menyinggung bahwa dalam dunia KOL, tidak ada benchmark tarif yang baku. Karena itu, semua proyek pasti akan melibatkan negosiasi. Hal ini kemudian melahirkan istilah Pzero (Priority Zero) untuk KOL atau konten yang dianggap paling prioritas dalam campaign.
Agensi kini juga semakin selektif dan detail dalam mengelola campaign. Mereka membutuhkan rate card karena banyaknya format konten yang bisa ditawarkan: dari story, tap-in, mirroring, hingga konten panjang dan pendek di berbagai platform.
Tips dari Raditya Dika: Pahami Tujuan Platform
Dalam obrolan ini, Raditya juga memberikan beberapa tips penting bagi para content creator. Salah satunya adalah memahami tujuan dari kehadiran di platform tertentu:
Jika ingin mengejar revenue stream baru, maka harus dipikirkan produk turunan yang bisa dimonetisasi, misalnya e-book, merchandise, atau produk digital langsung ke konsumen (direct to consumer/DTC).
Jika tujuannya memperluas jangkauan, maka pertimbangkan format konten: apakah perlu konten panjang, atau cukup dengan video pendek.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
