Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 September 2024 | 22.03 WIB

Produk Etiket Biru dan Manipulasi Pabrik, Pelajaran Penting untuk Pemilik Skincare Lokal

Dr Oky Pratama saat podcast bareng dr Rihard Lee. (Youtube Richard Lee) - Image

Dr Oky Pratama saat podcast bareng dr Rihard Lee. (Youtube Richard Lee)

JawaPos.com - Industri kecantikan di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak brand skincare lokal bermunculan, menawarkan produk yang dijanjikan aman dan berkualitas.

Namun, di balik kemewahan dunia kecantikan, terdapat tantangan besar yang sering dihadapi oleh para pemilik brand, salah satunya adalah jebakan pabrik nakal yang memproduksi produk secara ilegal.

dr Oky Pratama, pemilik Bening's Skincare, dalam sebuah podcast Youtube bersama dr Richard Lee, Selasa (24/9) mengungkapkan betapa berbahayanya bekerja sama dengan pabrik yang tidak bertanggung jawab.

Salah satu contohnya adalah praktik tidak etis yang dilakukan oleh seorang pemilik pabrik yang nakal. Pabrik itu terlibat dalam penjualan produk dengan etiket biru, sebuah istilah yang mengacu pada produk skincare yang dijual tanpa izin resmi dari BPOM.

Produk etiket biru pada dasarnya adalah produk skincare racikan yang seharusnya hanya digunakan dalam lingkungan klinik di bawah pengawasan dokter. Namun, dalam praktiknya, produk ini dijual bebas melalui reseller tanpa regulasi yang ketat.

“Dia tetap memaksakan harus jual etiket biru itu,” ungkap dr Oky dalam podcast itu. Produk tersebut sering mengandung bahan berbahaya seperti hidrokuinon, merkuri, dan steroid, yang dapat merusak kulit jika digunakan tanpa konsultasi dokter.

Sayangnya, pemilik brand yang bekerja sama dengan pabrik seperti ini sering kali tidak menyadari bahaya yang mengintai. Mereka tergiur dengan tawaran produksi murah dan keuntungan cepat, tanpa memeriksa kepatuhan pabrik terhadap regulasi yang berlaku.

Ketika produk bermasalah, yang terkena dampaknya bukan hanya pabrik, tetapi juga pemilik brand dan konsumennya.

Dr Oky juga menjelaskan bagaimana pihak yang nakal menggunakan taktik manipulatif untuk menjerat pemilik brand agar memproduksi di pabriknya.

“Dia serakah, mau ambil itu semua,” ujarnya.

Pabrik ini tidak hanya menawarkan jasa produksi, tetapi juga aktif merekrut reseller dari brand lain dan memproduksi produk yang sangat mirip dengan brand tersebut.

Praktik seperti ini jelas merugikan pemilik brand yang berusaha membangun reputasi dengan produk yang aman dan berkualitas.

Jika produk tersebut menimbulkan masalah bagi konsumen, nama baik pemilik brand-lah yang tercoreng. “Aku dipanggil BPOM, namaku yang rusak, bukan dia,” kata dr Oky.

menggambarkan bagaimana pabrik dapat lepas tangan saat masalah muncul, sementara pemilik brand yang harus bertanggung jawab.

Kasus seperti ini menunjukkan betapa pentingnya bagi para pemilik brand skincare untuk memastikan bahwa mereka bekerja sama dengan pabrik yang mematuhi semua regulasi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore