
Photo
JawaPos.com - Komunitas Seni Hitam Putih yang berasal dari Padang Panjang berhasil harumkan nama bangsa di dunia internasional lewat pertunjukan teater berjudul Under the Volcano. Pertunjukan teater arahan sutradara Yusril Katil itu sempat manggung di Tiongkok dan Singapura.
Dalam jumpa pers di hadapan awak media, Yusril Katil bercerita bahwa proses latihan lakon ini sejatinya sangat berat. Saat proses latihan pun sempat terjadi kecelakaan yakni kaki salah satu pemain mengalami cidera.
"Ada yang sampai mengalami kecelakaan waktu itu, kakinya mengalami cedera," kata Yusril Katil dalam jumpa pers di Ciputra Artpreneur Kuningan, Setiabudi Jakarta Selatan, Kamis (18/8).
Potensi terjadinya kecelakaan sebenarnya sudah dikhawatirkan oleh Yusril Katil sejak awal akan menggarap pertunjukan ini. Oleh kena itu, ia pun memutuskan asuransikan para pemain yang terlibat.
"Semua pemain saya asuransikan karena takut ada yang kecelakaan. Dan memang benar terjadi kecelakaan. Tapi karena kita asuransikan dia masih tetap bisa main," tuturnya.
Dia juga mengatakan, berasal dari kota kecil tiba-tiba memiliki keinginan untuk membuat pertunjukan berkelas internasional sebenarnya bisa dibilang keinginan cukup ambisius. Namun di tengah kesulitan yang ada, Under the Volcano akhirnya bisa terwujud dengan segala tantangan yang ada.
Menariknya, kendati dipentaskan di luar negeri, Under the Volcano tetap menggunakan bahasa daerah. Awalnya sempat terpikir menggunakan bahasa Indonesia tapi akhirnya diputuskan menggunakan bahasa daerah dengan sejumlah pertimbangan.
"Kita pakai bahasa Minang saja biar ekspresinya lebih dapat. Ketika pentas di Singapura sampai Borobudur, kita bertahan dengan bahasa Minang," tuturnya.
Pertunjukan teater Under the Volcano dibuat terinspirasi dari dari 'Syair Lampung Karam' karya Muhammad Saleh yang ditulis pada 1883 silam. Karya yang sarat dengan nuansa jurnalistik ini menggambarkan bencana dahsyat letusan Gunung Krakatau yang menewaskan banyak orang dan meluluhlantakkan desa-desa.
Komunitas Seni Hitam Putih yang berasal dari Padang Panjang lantas mengadaptasinya menjadi pertunjukan teater karena dianggap relevan dengan situasi di kampung halaman mereka yang kerap waspada terhadap bencana alam karena kontur geografis yang dikelilingi gunung berapi.
Pertunjukan Under the Volcano juga dianggap sebagai pengingat bahwa bencana alam akan selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat karena lokasi geografis yang terletak di lintasan ring of fire.
Under the Volcano sebelumnya telah beberapa kali dipentaskan. Pertama kalinya dihadirkan dalam acara Olimpiade Teater ke-6 di Dayin Theatre, Beijing, Tiongkok pada 7 dan 8 November 2014.
Kemudian pada 21-23 April 2016, Under the Volcano kembali dipentaskan di Theatre Works, Singapura. Dan pada 24 November 2018, pertunjukan teater arahan sutradara Yusril Katil dipentaskan pada perhelatan budaya Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2018 di Panggung Akshobya Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Setelah sempat melanglang buana, Under the Volcano akhirnya akan dipentaskan di Jakarta.Pertunjukan tersebut akan digelar di Ciputra Artpreneur Theater Sabtu, 27 Agustus 2022 dalam 2 sesi. Sesi pertama digelar pada pukul 16.00 dan sesi kedua pada pukul 20.00 WIB.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
