Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Mei 2020 | 20.20 WIB

Didi Kempot Mendaur Ulang Masa Lalu, Merebut Hati Milenial

Penyanyi Didi Kempot saat konser bertajuk - Image

Penyanyi Didi Kempot saat konser bertajuk

JawaPos.com - Tak kenal Didi Kempot secara langsung, tapi merasa begitu dekat. Lewat karya-karyanya, sang legenda itu mampu menyentuh hati banyak orang. Termasuk, para mahasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Aris Setiawan, etnomusikolog sekaligus pengajar di ISI, mengatakan, banyak mahasiswanya yang melakukan penelitian tentang Didi Kempot.

Sebagai pemerhati musik, Aris tahu nama Didi Kempot sudah malang melintang di dunia tarik suara bukan satu-dua tahun ini saja. Sudah lama lagu-lagunya dinikmati para pencinta campursari.

Ketika namanya kembali diperbincangkan, menurut Aris, memang ada kekuatan hebat dari musikalitas Didi sehingga mampu menarik generasi milenial. Kekuatan yang membikin kaum muda yang sebelumnya merupakan penggemar K-pop menjadi penyuka lagu-lagu berbahasa Jawa.

Menurut Aris, karya Didi Kempot tidak berlebihan bila diibaratkan oase di tengah padang pasir. Sebab, sudah terbukti mampu menghilangkan dahaga generasi masa kini. Yang butuh kesegaran dari musik arus utama yang saat ini seperti sedang jalan di tempat.

Mentok, monoton, dan minim pembaruan. ”Didi Kempot mendaur ulang masa lalu, dihadirkan dengan kesegaran di masa kini,” imbuh pemilik gelar master lulusan Program Pengkajian Seni Musik Nusantara Pascasarjana ISI Surakarta itu.

Kemunculannya kali ini juga disokong teknologi. Ratusan lagunya bisa didengar dengan mudah di berbagai platform pemutar musik. Mulai lagu terbarunya, Ojo Mudik yang dirilis bulan ini, hingga deretan karya dari album pertamanya, Solo Balapan yang dirilis 31 tahun lalu.

Kekuatan lainnya, irama lagu Didi Kempot tergolong easy listening dengan lirik yang sangat dekat dengan kehidupan anak muda saat ini yang cenderung mudah galau karena urusan asmara.

Walau lebih banyak lagu Didi yang berisi kesedihan, Aris yang tengah menempuh program doktoral Jurusan Pengkajian Seni Pertunjukan UGM Jogjakarta menilai Didi mampu menampilkannya dalam bentuk yang tidak biasa. Karena itu, pendengarnya dengan senang hati menertawakan bahkan merayakan kesedihan mereka. Hanya dengan lagu-lagu Didi Kempot-lah patah hati bisa dijogetin.

Kepiawaian Didi Kempot meramu lirik dan musik, lanjut Aris, membuat lagu yang dia nyanyikan semakin kuat. Punya tenaga untuk memberi nuansa baru. Untuk mencapai itu, Didi tidak perlu meninggalkan campursari yang menjadi awal mula pilihan musiknya.

Di ”kelahiran keduanya” dalam dunia musik, Didi justru mampu membuat campursari menembus penggemar dari berbagai latar belakang. Lewat lagu berbahasa Jawa, Didi menanggalkan segala gengsi. Menunjukkan bagaimana cara jujur, buka-bukaan menari di atas kesedihan hati.

Aris mengakui, sulit menemukan pengganti Didi Kempot. Untung, Indonesia tidak pernah kekurangan musisi berbakat. Aris melihat, sudah banyak musisi yang mengikuti jejak Didi Kempot. Bukan hanya di Solo, Aris menyebutkan, di Jogjakarta dan tempat-tempat lain juga banyak musisi yang berkiblat kepada Didi Kempot. ”Yang jadi soal, apakah mereka hanya ikut-ikutan atau bisa punya ciri khas sehingga memiliki potensi untuk meneruskan jejak. Itu pilihan mereka,” kata Aris.

Bupati Ngawi Budi ”Kanang” Sulistyono bersama jajaran Pemkab Ngawi turut mengucapkan dukacita atas meninggalnya Didi Kempot. Sosok Didi disebut sebagai aset besar yang dimiliki masyarakat Ngawi. Seorang maestro campursari yang dikenal tidak hanya di seantero tanah air, tapi juga dunia. ”Kalau sudah bicara soal Ngawi, totalitasnya sangat luar biasa. Itu yang membuat kami terkesan dengan beliau,” ungkapnya.

Misalnya saat merancang acara Konser Digital Lebaran 1441 H Tombo Kangen Jawa Timur di Ngawi yang akan digelar 25 Mei mendatang. Kanang menyebutkan, antusiasme Didi Kempot sangat luar biasa. Meski sekarang berada di puncak karir, Didi disebutnya tidak hitung-hitungan soal honor. ”Apalagi, acara untuk membesarkan nama Ngawi itu juga untuk kampanye pandemi Covid-19, berjuang agar masyarakat tidak mudik,” tuturnya.

Kanang mengaku kaget ketika mendengar kabar meninggalnya sang maestro. Sebab, dia sempat mengontak Didi untuk membahas kelanjutan rencana konser digital tersebut pada Senin malam, sekitar pukul 23.30. ”Masih sangat sehat, tidak ada keluhan sama sekali. Karena itu, kami semua sangat kaget dan kehilangan,” paparnya.

Bagi Kanang, sosok suami Saputri tersebut bukan sekadar teman biasa. Tapi sudah seperti sahabat dekat. Kanang sudah mengenal Didi Kempot lebih dari 20 tahun. Ketika mereka masih sama-sama belum menjadi apa-apa. Kanang terkesan dengan sosok Didi yang begitu bersahaja.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo turut hadir melepas kepergian Godfather of Broken Heart untuk terakhir kali. Politisi yang akrab disapa Mas Ganjar itu tiba di TPU Jatisari sekitar pukul 14.50, sesaat setelah jenazah Lord Didi diantarkan ke tempat persemayaman terakhirnya. ‘’Saya sangat kaget saat mendengar kabar Mas Didi meninggal dunia,’’ ungkap Ganjar kepada media.

Ganjar paham karakter Didi Kempot. Sebagai pejuang seni, almarhum mengawali karirnya dengan merangkak dari bawah. Dengan penuh ketabahan, inovasi, serta loyalitas dan dedikasi tinggi. ‘’Beliau tipikal seniman ndeso yang tetap merakyat meski sudah terkenal. Beliau tidak pernah lupa dengan asal-usulnya,’’ sambung Ganjar.

Duka juga dirasakan para penggemar Didi Kempot dari Suriname. ’’Kepergiannya adalah kehilangan yang luar biasa besar,’’ kata mantan penyiar Jurmic Partodongso.

Di negara kecil di Amerika Selatan itu, nama dan karya-karya Didi Kempot sangat dikenal. ’’Dia telah berkontribusi melestarikan bahasa Jawa melalui lagu-lagunya. Saya rasa tidak ada orang Suriname yang tidak mengenalnya,’’ ujar Partodongso sebagaimana dikutip De Ware Tijd Online, satu di antara empat surat kabar harian di Paramaribo, Suriname.

Sekitar 13 persen populasi di Suriname adalah etnis Jawa. Pada 9 Agustus 1890, rombongan penduduk Jawa tiba di Suriname. Ketika itu negara tersebut masih dijajah Belanda. Mereka dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan. Anak keturunan para pekerja itulah yang tinggal dan tetap melestarikan budaya Jawa di Suriname. Tidak heran, lagu-lagu Didi Kempot yang berbahasa Jawa dan enak didengar langsung dicintai penduduk Suriname.

Portal berita asal Suriname, culturu.com, melaporkan, selama 20 tahun terakhir, Didi Kempot menghelat 10 konser di negara tersebut. Di setiap konser, seluruh tiket terjual habis. Konser terakhirnya yang bertajuk Layang Kangen Tour diadakan pada Oktober 2018. Saat itu Presiden Desi Bouterse memberinya penghargaan berkat kecintaan Didi Kempot pada Suriname.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=oRUJKBFt6CY

 

https://www.youtube.com/watch?v=Fx1-tEKpS70

 

https://www.youtube.com/watch?v=ZVYDzxryK1Q

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore