Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Juni 2017 | 04.14 WIB

Dua Dekade Keajaiban Harry Potter

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


JawaPos.com - Dua puluh tahun silam, 26 Juni 1997, dunia sihir itu terbuka. Lewat buku Harry Potter and the Philosopher’s Stone (Harry Potter dan Batu Bertuah) ciptaan Joanne Kathleen Rowling. Setelah dua dekade, penyihir cilik (yang kini sudah dewasa dengan tiga anak) itu masih terus menebarkan keajaibannya.



Kegairahan menyambut ulang tahun penerbitan buku tersebut begitu terasa. Di jagat maya. Juga di dunia nyata. Dalam sehari, lebih dari 60 ribu cuitan keluar melalui Twitter dengan tagar #HarryPotter20. Komplet dengan emoji kacamata bulat dan bekas sambaran petir di dahi. Khas Harry Potter, penyihir asal Inggris itu.



Melalui cuitan tersebut, kentara sekali seri Harry Potter bukan sekadar buku dengan cerita yang bagus. Kisahnya juga memengaruhi, memotivasi, atau setidaknya memberikan kesan kuat bagi para pembacanya. Terutama melalui kutipan-kutipan kuat ciptaan J.K. Rowling, pengarang yang kini menjadi salah seorang perempuan terkaya di Inggris itu.



Facebook juga tak ketinggalan menebarkan ”sihir”. Cobalah Anda posting atau memberi komentar dengan kata ”Harry Potter”. Atau mengetik salah satu nama asrama Hogwarts, sekolah sihir itu. Misalnya Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, atau Slytherin.



Kata-kata tersebut otomatis berwarna khas asrama itu. Sebentuk animasi tongkat sihir pun muncul. ”Ini hal terbaik yang pernah dibuat Facebook. It’s magic!” seru seorang pengguna media sosial tersebut.



Selama 20 tahun, seri Harry Potter, baik buku maupun filmnya, memang tak pernah mandek menebar sihirnya (lihat grafis). Pada 2014, Universal Parks & Resorts membuka wahana The Wizarding World of Harry Potter. Sampai kini tempat wisata itu terus menangguk untung dari wahana tersebut.



The Time Warner yang menguasai franchise Harry Potter juga sudah mendapat untung lebih dari USD 25 juta (Rp 332 miliar) dan akan terus bertambah. Dalam galleon, mata uang dunia sihir, keuntungan itu senilai lebih dari 3,4 juta galleon, hehe... Bukan angka yang buruk untuk buku yang pernah ditolak 12 penerbit tersebut. Penerbit yang mungkin kini menyesali keputusannya dulu.



Pada Senin (26/6), J.K. Rowling, sang pengarang, menyebut dua dekade ini sebagai momen menakjubkan. Kisah kreasinya memulai sebuah fenomena literasi global yang menginspirasi sebuah generasi. ”Dua puluh tahun lalu, sebuah dunia yang saya tinggali sendiri tiba-tiba terbuka bagi orang lain. Menakjubkan. Terima kasih,” cuitnya melalui Twitter.



Hannah Owen dari London mengatakan kepada BBC, ”Saya generasi yang tumbuh bareng Harry Potter. Saya antre berjam-jam menunggu buku rilis tengah malam. Waktu kecil, saya sudah jatuh cinta pada buku itu. Dan sampai sekarang tidak berubah.”



Kekuatan Harry Potter dalam menyebarkan virus literasi pada anak diakui Diana Gerald, ketua The Book Trust, lembaga amal yang mendorong generasi muda untuk membaca. Serial itu bisa mengajak anak muda ”terobsesi” membaca sehingga rela antre menunggu buku dirilis.



Di dunia nyata, para muggle (sebutan untuk non penyihir dalam serial tersebut) juga punya cara sendiri merayakan ulang tahun buku itu. Mereka berbaris di Stasiun King’s Cross di London. Orang-orang tersebut berfoto pada sebentuk troli yang seolah-olah sedang menembus tembok. Persis seperti ketika Harry Potter dan para penyihir lainnya menuju peron 9¾ sebelum menuju Hogwarts.



Yang terang, keajaiban sejati justru dirasakan Rowling. ”Umur pernikahan saya pendek. Saya penganggur, orang tua tunggal, dan begitu miskin sampai-sampai bisa jadi tunawisma di Inggris,” kata Rowling.



Namun, kisah Harry Potter mengubah segalanya. Sekarang begitu sulit membayangkan kehidupan Rowling sebelum buku itu terbit. Dia masuk daftar 200 orang terkaya di Inggris pada 2016. Majalah Time mengganjarnya sebagai runner-up Person of the Year pada 2007. Sebagai seorang filantropis, perempuan kelahiran Yate, Inggris, itu terlibat dalam berbagai organisasi amal.



Kisah hidup itulah yang menguatkan jalinan cerita Harry Potter dan muncul melalui kalimat-kalimat inspiratif dalam buku. Misalnya yang diucapkan Albus Dumbledore, kepala sekolah Hogwarts, dalam buku Harry Potter and the Deathly Hallows.



”Do not pity the dead, Harry. Pity the living, and above all, those who live without love.” Jangan kasihani mereka yang sudah mati. Kasihanilah yang masih hidup, terutama yang hidup tanpa cinta... (BBC/AFP/ABC News/Fortune/c9/dos)

Editor: Dwi Shintia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore