Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Desember 2023 | 11.05 WIB

Dialami BCL, Kata Psikolog Soal Sejumlah Fase Ketika Kehilangan Orang Tersayang

Bunga Citra Lestari alias BCL (ISTIMEWA ) - Image

Bunga Citra Lestari alias BCL (ISTIMEWA )

JawaPos.com - Sejumlah netizen sempat dibuat terkejut atas kabar bahagia pernikahan Bunga Citra Lestari atau BCL dengan kekasihnya Tiko Aryawardhana yang digelar pada 2 Desember 2023 lalu di Pulau Dewata. Mereka terkejut karena tidak menduga bahwa BCL akan dapat move on dari duka mendalam atas kehilangan mendiang suaminya, Ashraf Sinclair, pada Februari 2020 silam. Selain itu, sudah terkonstruksi dalam benak netizen bahwa mendiang Ashraf Sinclair adalah cinta sejati dari BCL dan BCL tidak mungkin mencari pengganti.

Terkait duka yang dialami oleh orang yang kehilangan sosok tersayang, tentu tidak selamanya harus berduka. Duka dan kesedihan seharusnya bisa dikelola sampai akhirnya dia mampu ikhlas atau menerima kepergian orang tercinta.

Psikolog Joice Manurung memberikan penjelasan terkait duka yang biasanya dirasakan oleh orang yang kehilangan orang tersayang. Dari mulai berduka merasakan kesedihan mendalam sampai mampu menerima atau ikhlas melepas kepergian orang tercinta kembali ke pangkuan Ilahi.

Menurut Psikolog Joice Manurung, terdapat sejumlah fase yang biasanya dilewati oleh orang yang kehilangan sosok tercinta. Pertama, fase griefing atau fase berduka. Hal ini terjadi saat baru mengetahui bahwa orang yang kita cintai ternyata telah meninggal dunia.

“Ada yang meninggal tiba-tiba, ada yang meninggal melalui proses. Kalau meninggalnya melalui proses, biasanya akan lebih mudah dibandingkan dengan yang meninggal secara tiba-tiba,” kata Joice Manurung kepada JawaPos.com, Jumat (8/12).

Pada saat baru mengetahui orang yang kita sayang ternyata meninggal dunia, biasanya akan terjadi shocking atau rasa kaget sebagai respons atas kabar tak sedap.

“Kaget dengan situasi yang terjadi. Dengan adanya proses (saat akan meninggal), biasanya akan lebih bisa merasionalisasi, dan fase shocking ini lebih pendek waktunya,” katanya.

Ada kalanya orang yang ditinggal oleh sosok tercinta meninggal dunia menghadapi fase denial atau melakukan penyangkalan. Dia tidak percaya orang yang sangat disayangi telah meninggal dunia.

"Setelah penyangkalan dilalui, akan masuk fase anger, marah. Marahnya kenapa nggak dirawat di rumah sakit terbaik dan lain-lain. Kemarahan ini timbul tanpa disadari dan itu harus dilalui agar energi berduka bisa dikelola," jelasnya.

Setelah itu, orang yang kehilangan orang tercinta baru akan memasuki fase bargaining atau tawar menawar dengan diri sendiri.

"Di fase bargaining, seseorang mulai bikin kesepakatan dengan dirinya. Oh iya ya meninggal karena sudah waktunya, kehendak Tuhan, dan lain sebagainya," tuturnya.

Setelah melalui fase bargaining, orang yang berduka atas meninggalnya sosok terkasih baru akan masuk ke fase acceptance atau fase menerima.

"Meski masuk ke fase acceptance tidak berarti dukanya hilang. Hanya makna duka itu bisa dikonstruksi kembali. Jadi lebih positif lah melihat kehilangan," tuturnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore