
Sosok intelektual multitalenta dan merupakan salah satu pilar utama Angkatan '45, Asrul Sani, paman dari mantan Menkeu Chatib Basri. (Instagram @chatibbasri)
JawaPos.com - 11 Januari 2004 Indonesia mendapat kabar duka dari seorang sastrawan besar asal Rao, sebuah kecamatan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Asrul Sani, berpulang ke pangkuan Sang Maha Kuasa setelah meletakkan fondasi modern bagi dunia kreatif Tanah Air.
Asrul Sani dikenal sebagai sosok intelektual yang multitalenta dan merupakan salah satu pilar utama Angkatan '45, kelompok seniman yang membawa napas kebebasan berekspresi dan modernitas dalam dunia seni Indonesia pasca-kemerdekaan.
Bersama rekan-rekan sejawatnya, Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia melahirkan karya monumentalnya yang fenomenal, yakni kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir (1950).
Paman dari mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri ini memiliki sejumlah karya yang tidak sebatas puisi. Melalui perannya sebagai pendiri Gelanggang Seniman (1946), ia menjadi motor penggerak perumusan Surat Kepercayaan Gelanggang.
Manifesto budaya tersebut menjadi pegangan penting bagi seniman Indonesia untuk tetap jujur pada diri sendiri dan menyerap nilai-nilai universal tanpa harus kehilangan jati diri bangsa.
Pria yang mengenyam pendidikan sebagai dokter hewan di Institute Pertanian Bogor (IPB) ini melahirkan deretan karya sastra yang diakui secara kritis, seperti kumpulan cerpen Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (1972), naskah drama Mahkamah (1988), hingga kumpulan esai Surat-Surat Kepercayaan (1997). Puisi-puisinya, seperti Anak Laut dan Surat dari Ibu, hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam apresiasi sastra di Indonesia.
Selain sastra, Asrul juga memiliki peran besar dalam industri perfilman di Indonesia. Sebagai penulis skenario, ia dikenal memiliki sentuhan magis yang membuat setiap filmnya menjadi mahakarya. Keahliannya dalam mengolah dialog dan alur cerita mengantarkannya memenangkan berbagai Piala Citra.
Adapun, Beberapa skenario film legendaris yang lahir dari tangan dinginnya mencakup Naga Bonar (1987), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Bawalah Aku Pergi (1981), serta Kemelut Hidup (1978). Melalui karya-karya ini, ia berhasil memadukan narasi sastra yang dalam dengan bahasa visual yang memikat.
Ketajaman intelektual Asrul Sani juga terlihat dari kemampuannya menjembatani literatur dunia ke dalam Bahasa Indonesia melalui karya terjemahan. Mulai dari Pangeran Muda karya Antoine de St-Exupery hingga Rumah Perawan karya Yasunari Kawabata, ia membuktikan bahwa sastra adalah bahasa universal yang harus dirayakan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Pembangunan Gereja di Citraland Surabaya Ditolak Warga, Ternyata karena salah soal Perizinannya
Jadwal Siaran Langsung Sabah FC vs Persib Bandung di Dewata Challenge Series 2026: Live di Indosiar
5 Weton Aras Kembang yang Bisa Memikat Lawan Jenis karena Kharismatik danMempesona Menurut Primbon Jawa
