Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 September 2025, 21.59 WIB

Lagu Dies Irae oleh Thomas dari Celano: Lagu Klasik untuk Menjemput Kematian, Menerima Penghakiman, dan Harapan akan Hidup Kekal

Ilustrasi lagu Dies Irae yang terkesan menyeramkan namun penuh harapan oleh Thomas dari Celano. (Catholicus.eu Espanol) - Image

Ilustrasi lagu Dies Irae yang terkesan menyeramkan namun penuh harapan oleh Thomas dari Celano. (Catholicus.eu Espanol)

JawaPos.com - Ada banyak lagu-lagu klasik karya komposer-komposer ternama dalam sejarah yang mulai bermunculan kembali pada media-media perfilman dan musik modern. Mereka menggunakan lagu-lagu klasik tersebut sebagai latar belakang atau inspirasi karya-karya baru sekarang.

Tanpa diketahui oleh banyak orang, beberapa lagu tersebut juga memiliki latar belakang agama. Seperti contohnya, lagu-lagu berbahasa Latin biasanya memiliki akar dari Gereja Katolik.

Namun, karena kurangnya dokumentasi dalam banyak fenomena atau peristiwa di gereja, banyak lagu-lagu ini tidak jelas asal-usulnya.

Dies Irae

Dilansir dari Thesaurus Precum Latinarum, salah satu Kidung Gregorian paling terkenal adalah Dies Irae (Hari Kemurkaan) yang secara tradisional dikaitkan dengan Thomas dari Celano (1200-1265), seorang biarawan Fransiskan.

Lagu ini diinspirasi oleh ayat Zef 1:14-16, yang berbunyi: “Sudah dekat hari TUHAN yang hebat itu, sudah dekat dan datang dengan cepat sekali! Dengar, hari TUHAN pahit, pahlawanpun akan menangis. Hari kegemasan hari itu, hari kesusahan dan kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam, hari peniupan sangkakala dan pekik tempur terhadap kota-kota yang berkubu dan terhadap menara penjuru yang tinggi”.

Dulu lagu ini masih berbentuk doa dan menjadi bagian dari Misa Arwah dan Ibadat Hari Raya Arwah. Sekarang masih dapat ditemukan dalam Liturgia Horarum pada minggu terakhir Misa Biasa (minggu ke 34).

Banyak orang tidak terlalu menyukai lagu ini karena bait pembukanya yang seram, namun pada bagian akhirnya terhadap nada penuh harapan.

Penghakiman yang kekal memang terdengar menakutkan bagi beberapa orang, terutama umat Kristen, akan tetapi juga menyadarkan bahwa ada juruselamat untuk mereka.

Lirik lagu

Dies irae, dies illa, solvet saeclum in favilla, teste David cum Sibylla.
(Hari kemurkaan itu, hari mengerikan itu, datang kepada surga dan bumi dimana abu ada, seperti yang dikatakan Daud dan Sibil)

Quantus tremor est futurus, quando iudez est venturus, cuncta stricte discussurus!
(Betapa mengerikannya bagi pikiran ketika sang Hakim menemukan segala kejahatan manusia!)

Tuba mirum spargens sonum per sepulchra regionum, coget omnes ante thronum.
(Suara sangkakala akan menghancurkan semua batu nisan makam dan memanggil semua orang ke hadapan Singgasana.)

Mors stupebit et natura, cum resurget creatura, iudicanti responsura.
(Kematian dan alam akan melihat para pendosa yang gemetaran bangkit dan bertemu dengan mata sang Hakim.)

Liber scriptus proferetur, in quo totum continetur, unde mundus iudicetur.
(Lalu dengan ketakutan semua orang, Kitab Hati Nurani akan dibacakan untuk mengadili semua orang yang telah meninggal.)

Iudex ergo cum sedebit, quidquid latet apparebit: nil inultum remanebit.
(Sekarang di hadapan Hakim yang tegas semua hal yang tersembunyi harus jelas terlihat; tidak ada kejahatan yang bisa lolos tanpa hukuman disini.)

Quid sum miser tunc dicturus? quem patronum rogaturus? Cum vix iustus sit securus.
(Oh apa yang harus aku yang berdosa ini nyatakan? Dan siapa yang akan membelaku? Kapan para orang suci akan menghibur mereka yang membutuhkan?)

Editor: Edy Pramana
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore