
Ilustrasi orang membaca buku sastra. (Dok. Pexels)
JawaPos.com – Di tengah gempuran tren digital, kecanggihan teknologi, dan obsesi pada jurusan kuliah yang "cuan", siapa yang menyangka bahwa sastra masih memiliki pengaruh besar dalam kehidupan. Bukan sekadar bikin kamu tenggelam dalam dunia imajinasi, membaca karya sastra ternyata bisa bikin kamu jadi manusia yang lebih peduli.
Fakta ini diungkap dalam laporan TED Ideas dari seri How to Be a Better Human, yang menunjukkan bahwa jurusan humaniora (termasuk sastra) mengalami penurunan peminat. Di Amerika Serikat, misalnya, hanya seperempat lulusan dari perguruan tinggi liberal arts yang memilih bidang humaniora. Padahal, dulu sempat menyentuh sepertiga.
Menariknya, tren ini beriringan dengan penurunan empati. Sebuah studi terhadap 15 ribu mahasiswa menemukan bahwa tingkat empati generasi sekarang menurun hingga 40 persen dibanding generasi sebelumnya.
Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana hal ini bisa berkaitan begitu erat? Menurut Natalie Phillips, peneliti dari studi literary neuroscience, membaca fiksi bukan hanya soal menyerap kata-kata. Ketika kamu membaca cerita yang emosional atau mendebarkan, seperti karakter berlari di hutan atau mencium aroma kopi, bagian otak yang mengatur gerak dan penciuman ikut aktif, seolah-olah kamu benar-benar mengalami hal itu.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pembaca fiksi cenderung lebih peka membaca ekspresi wajah. Mereka terbiasa "membaca pikiran" karakter dalam cerita, sehingga lebih terlatih memahami orang lain di dunia nyata.
Contohnya, dalam studi yang dilakukan oleh Dan Johnson, peserta yang membaca kutipan novel dari sudut pandang perempuan Muslim-Amerika menunjukkan penurunan bias rasial. Sebaliknya, peserta yang hanya membaca versi ringkasan fakta justru lebih cepat menilai negatif wajah yang tampak "asing".
Bukan cuma orang dewasa, anak-anak pun bisa dipengaruhi. Di Italia, siswa yang membaca bagian Harry Potter yang membahas diskriminasi menunjukkan sikap lebih terbuka terhadap imigran dibanding siswa lain yang membaca bagian netral.
Jadi, membaca sebenarnya tidak hanya berkutat pada tujuan untuk menambah kosa kata atau kelulusan tugas sekolah. Buku-buku sastra justru bisa melatih kita menjadi pribadi yang lebih empatik, lebih menghargai perbedaan, dan tentu saja, lebih manusiawi.
Seperti kata James Baldwin, "Kau pikir rasa sakit dan patah hatimu begitu unik, sampai kau membaca". Sebab pada saat kamu membaca, kamu bukan hanya menemukan kisah orang lain, namun kamu juga bisa menemukan versi terbaik dari dirimu sendiri. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
