Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Oktober 2018 | 18.03 WIB

Keren! Alat Pemantau Bandara Karya Anak Bangsa Segera Diuji Coba

ILUSTRASI. Suasana Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, yang akan naik status menjadi bandara internasional. - Image

ILUSTRASI. Suasana Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, yang akan naik status menjadi bandara internasional.

JawaPos.com - Cukup banyak bandara sibuk di Indonesia. Baik itu lalu lintas penerbangannya maupun armada kendaraan yang lalu lalang di landasan pacu dan apron bandara. Sayangnya belum banyak bandara yang dilengkapi alat pemantau bandara atau advance surface movement guidance control surveilance (A-SMGCS).


Berdasarkan catatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), di Indonesia baru ada dua bandara yang dilengkapi A-SMGCS, yaitu Bandara Juanda di Sidoarjo, Jawa Timur, dan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.


Padahal fungsi perangkat A-SMGCS itu cukup vital, yakni memantau pergerakan kendaraan maupun pesawat di bandara untuk mencegah terjadinya tabrakan atau senggolan. Kepala Pusat Teknologi Elektronika BPPT Yudi Purwantoro mengatakan, perlengkapan A-SMGCS yang terpasang di kedua bandara itu pun buatan luar negeri.


"(tapi) BPPT saat ini juga mengembangkan perangkat A-SMGCS," katanya di Jakarta, Sabtu (20/10).


Yudi menargetkan, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) perangkat A-SMGCS itu nantinya lebih dari 50 persen. Dia menuturkan, targetnya nanti mulai dari requirement, desain, manufaktur, pengujian, hingga peranti lunak perangkat A-SMGCS karya BPPT merupakan hasil karya anak negeri.


"Hanya komponen dasar yang harus ekspor," jelasnya.


Menurut Yudi, perangkat A-SMGCS karya BPPT sudah melalui proses uji coba di kompleks Puspiptek, Serpong. Caranya sensor kendaraan dipasang di mobil, kemudian mobil tersebut berkeliling kompleks Puspiptek.


Uji coba berikutnya rencananya bakal dilakukan di Bandara Juanda akhir Oktober ini. Yudi berharap pemantauan kendaraan oleh perangkat A-SMGCS karya BPPT ini lebih akurat.


Sebab mereka sudah bekerja sama dengan Jepang terkait pemanfaatan sinyal satelit QZSS (Quasi-Zenith Satellite System). Kerja sama dengan Jepang itu dilakukan pada Jumat (19/10).


Dia mengatakan sistem satelit QZSS itu terdiri atas empat unit satelit, tiga di antaranya sudah mengorbit di angkasa. Rencananya satelit keempat diluncurkan April 2019.


"Satelit QZSS nanti beredar di atas Indonesia," pungkasnya.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore