Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Juli 2017 | 14.00 WIB

Sejak Kecil Diharap Jadi Polwan, AKP Ocha Tak Boleh Lecet

AKP Ocha adalah anggota Tim Gabungan Satuan Tugas Merah Putih yang menggagalkan penyelundupan satu ton sabu - Image

AKP Ocha adalah anggota Tim Gabungan Satuan Tugas Merah Putih yang menggagalkan penyelundupan satu ton sabu

JawaPos.com – Polisi wanita yang satu ini sudah sejak kecil ingin menjadi polisi. Usaha kerasnya tidak mengkhianati, kini Ajun Komisaris Polisi (AKP) Rosana Albertina Laborbar atau AKP Ocha menjadi populer dan paling ditakuti para gembong jaringan narkoba internasional. Apalagi, dia sukses mengungkap penyelundupan sabu 1 ton di Pantai Anyer, Banten.



Sekilas, jika tak menggunakan seragam polisi, tubuh mungilnya membuat ibu satu anak itu tak terlihat seperti anggota Polri. Ocha sejak kecil memang sengaja dicetak untuk menjadi polisi. Ambisi itu ditularkan oleh sang ibunda, yang berprofesi sebagai bidan. Saking ingin anaknya menjadi polisi, ibunda Ocha selalu menjaga anaknya jangan sampai terluka.



“Saya memang dididik sama orang tua harus jadi polisi, dijaga sekali sejak kecil tubuh saya enggak boleh ada lecet. Kalau gigi enggak ada masalah, mata juga. Cuma jangan ada lecet atau bekas luka. Ibu saya ingin jadi polwan, tapi enggak diizinkan,” ungkapnya lantas tersenyum saat ditemui JawaPos.com di Mapolresta Depok.



Watak keras dan pola asuh tegas diperoleh Ocha justru dari ibundanya. Anak kedua dari dua bersaudara itu, ternyata memang setuju saat ibunya memintanya menjadi polisi. Ayahnya meninggal pada 2008, hanya berselang dua minggu setelah dia lulus Akademi Kepolisian (Akpol).



“Kakak saya PNS, dan saya melihatnya beda banget kalau bisa jadi polisi. Dulu saya enggak tahu ada Akpol, tahunya jadi polisi saja. Akhirnya, saat Paskibra kami dimotivasi dan saat ada pendaftaran, ramai-ramai daftar. Tapi rezekinya, cuma saya yang lulus,” ungkap perempuan yang tak suka memasak itu.



Saking tekunnya, dan selalu menjadi juara kelas sejak duduk di bangku sekolah, tak sempat baginya untuk pacaran. Saat ditanya masa remajanya, Ocha hanya menjawab seadanya sambil tertawa. “(Cinta-cintaan) itu biasa kali ya, biasa ya namanya juga ABG,” kata Ocha tertawa.



Dia lantas memutuskan menikah saat usianya menginjak 25 tahun. Ocha menganggap menikah bukan halangan untuk mencapai karir. Kini anaknya sudah balita, perempuan, berusia empat tahun. Suaminya berprofesi pegawai di perusahaan swasta.



“Menikah atau hamil tidak menghalangi karir. Justru saat saya menikah, lalu lahiran, saat anak saya baru dua bulan, saya langsung menjadi Kasat Reskrim. Keluarga, anak dan suami selalu mendukung dan selalu mengerti setiap kali bundanya akan bertugas demi masyarakat,” tegas Ocha. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore