
Photo
JawaPos.com - Rencana baru terkait insentif tilang bagi Polisi Lalu Lintas (Polantas) naik 100 persen mendapat sambutan beragam dari masyarakat. Rencana yang akan diterapkan tahun 2016 itu ada yang mendukung ada juga yang menbcibir.
Faisal (28), salah satu pengendara roda dua ini menilai, hal tersebut sebagai pemborosan. "Satu kertas tilang Rp 20 ribu, 5 sepeda motor saja satu hari sudah Rp 100 ribu Polantas dapat uang, di kali sebulan sudah Rp 3 juta, belum termasuk gaji pokok," katanya.
Menurutnya, hal tersebut tidak efektif untuk menekan Polantas yang nakal dengan damai di tempat. "Efektifnya di mana Bang, kalau pun Polantas damai di tempat dengan pengendara yang ditilang, apa pemimpinnya tahu? Saya rasa kebijakan itu sia-sia," tandas warga Medan Amplas yang mengaku pernah damai di tempat saat ditangkap Polantas itu.
Jika Faisal menolak, tidak dengan warga lain bernama Ali Amrizal (32). Ayah dua anak itu menilai kenaikan intansif tilang itu wajar-wajar saja asal Polantas tidak ‘bermain’. “Saya rasa wajar-wajar saja itu. Asalkan Polantas tidak ‘bermain’ lagi di lapangan,” kata warga Jalan Amaliun Medan itu.
Selain warga, kebijakan baru ini juga mendapat sambutan dari anggota DPRD Sumut Komisi A yang mengurusi bidang ketertiban dan keamanan. Sutrisno Pangaribuan, anggota DPRD Sumut Komisi A ini mengatakan, selama mentalitas aparat kepolisian belum berubah, sulit untuk menghindari praktik damai di tempat.
"Mau dinaikkan atau tidak sama saja. Contohnya, gaji hakim itu tinggi sekali tetap juga ada oknum hakim yang bisa disuap. Jadi persoalan 'damai' bukan persoalan penghasilan, tetapi persoalan mental," katanya.
Lain dengan Roni Situmorang. Anggota DPRD Sumut Komisi A dari Partai Demokrat itu mengaku mendukung rencana tersebut. "Saya bahkan mengharapkan nominalnya lebih besar di kisaran Rp 50 ribu rupiah per satu kertas tilang, karna toh dengan semakin banyak tilang semakin besar pula sumber negara bukan pajak," ujarnya.
Dengan intensif itu dirinya yakin Polantas pasti lebih terpacu. Polantas juga akan bersungguh-sungguh bekerja dengan baik dan jujur. Bahkan menurutnya, penerimaan negara bukan pajak juga dapat meningkat.
"Terutama dapat menimbulkan efek jera bagi para pelanggar lalu lintas, sehingga ketertiban berjalan raya dapat lebih dirasakan. Tentunya saja hal ini berbanding lurus dengan akan meningkatnya angka rasio keselamatan dalam berkendara," katanya lagi. (gib/bay/deo/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
