Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 September 2015 | 14.22 WIB

Tragedi Mina Renggut 719 Jiwa, Tiga dari Indonesia

Photo - Image

Photo

JawaPos.Com - Tragedi Mina yang merenggut nyawa ratusan jemaah haji kembali terjadi. Kali ini lokasinya bukan di Jamarat (tempat melempar jumrah) atau di terowongan yang menuju Masjidilharan. Namun, di jalanan sekitar 1,5 kilometer mengarah ke lokasi pelemparan jumrah aqabah.







Sebagaimana laporan wartawan Jawa Pos, Endrayani Dewi dari Makkah, hingga tadi malam Direktorat Pertahanan Sipil Arab Saudi merilis total korban 719 jemaah meninggal dunia dan 863 jemaah terluka. Dari Indonesia, jemaah yang meninggal ada tiga. Yakni, Hamid Atwi Tarji Rofia, 51; Busyaiyah Sahel Abdul Gafar, 50; dan satu jemaah lagi belum teridentifikasi.



Hamid berasal dari kloter Surabaya (SUB) 48 yang tinggal di maktab 2. Busyaiyah merupakan jemaah kloter Batam (BTM) 14 yang tinggal di maktab 1. Dua jemaah itu tinggal di tenda di Mina Jadid.



“Satu korban lagi belum teridentifikasi, tapi menggunakan pakaian jemaah Indonesia,” kata Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin tadi malam.



Kejadian tersebut terjadi di Jalan Arab 204 Mina sekitar pukul 07.30 Waktu Arab Saudi (WAS). Jalan tersebut sekitar 500 meter dari Jalan Besar King Fahd. Jalan Arab menjadi lintasan jemaah Saudi, Mesir, Turki, dan Sudan.



Mereka bermaksud melempar jumrah pertama aqabah pada pagi hari. Itu dilakukan agar cepat menyelesaikan jumrah pertama sehingga cepat tahalul (bebas ihram).



Lukman mengonfirmasi bahwa dua jemaah Indonesia itu meninggal karena tersasar atau tidak tahu jalan lantaran akses tersebut diperuntukkan jemaah haji dari Saudi, Mesir, Turki, dan Sudan.



Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Sanusi mengatakan, Jalan Arab tidak biasa digunakan jemaah Indonesia untuk menuju Jamarat aqabah. Termasuk jemaah yang tinggal di maktab kawasan Mina Jadid.



Jemaah Indonesia biasanya melewati Jalan Besar King Fahd. “Tapi, kami mendapat informasi, ada beberapa jemaah yang melalui jalan tersebut. Saat ini sedang kami selidiki,” ujarnya.



Menurut Arsyad, seluruh jemaah Indonesia mendiami 52 maktab yang terbagi di dua tempat. Yaitu, 7 maktab di Mina Jadid dan 45 maktab di Harratul Lisan, Mina. “Jemaah yang tinggal di Mina Jadid itulah yang mungkin menjadi korban,” kata Arsyad.



Sebab, lanjut dia, jemaah yang tinggal di Harratul Lisan biasanya akan ke Jamarat aqabah melalui terowongan Muashim, lokasi yang pada 2006 pernah terjadi tragedi. Dengan demikian, lokasi kejadian kemarin bukan di dalam terowongan Mina. “Sangat kecil sekali kemungkinan untuk terjadinya korban yang lebih banyak,” ujarnya.



Berdasar laporan petugas di Jamarat, diduga insiden terjadi karena jemaah yang hendak melaksanakan jumrah aqabah mendadak terhenti di Jalan Arab. Karena ada jemaah yang berhenti, jemaah di barisan belakang spontan mendorong jemaah di depannya.



Aksi saling dorong pun terjadi di tengah kerumunan jemaah. Akibatnya, banyak jemaah perempuan dan orang tua yang jatuh menjadi korban karena terinjak-injak.



Kepala Organisasi Haji Iran Said Ohadi mengatakan, ada dua jalur di dekat Jamarat yang ditutup tanpa alasan yang jelas. Kata Ohadi, itulah yang mengakibatkan kerumunan jemaah berdesakan yang berujung jemaah tewas terinjak-injak.



Selain itu, ada yang menyebut jemaah kelelahan sehingga berhenti di tengah jalan menuju Jamarat. Yang jelas, situasi tersebut membuat arus jemaah di Jalan Arab 204 terhenti total.

Editor: Ayatollah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore