
Ilustrasi hujan turun saat Tahun Baru Imlek, pertanda banjir rezeki di awal tahun. (Freepik)
JawaPos.com - Bagi Umat Konghucu, turunnya hujan saat perayaan Tahun Baru Imlek merupakan pertanda baik. Tetes-tetes hujan dianggap sebagai pertanda baik yang membawa harapan di momen pergantian tahun.
Dalam kepercayaan Konghucu, hujan bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah simbol datangnya kemakmuran, rezeki, dan keberuntungan yang menyertai umat saat memasuki Tahun Kuda Api 2577 Kongzili.
Dosen Bahasa Mandarin Universitas Kristen Petra Surabaya, Olivia, mengatakan bahwa mitos ini secara harfiah bisa dijelaskan oleh ilmu sains. Imlek menandai berakhirnya musim dingin menuju awal musim semi.
"Ada mitos yang menggelitik, “mengapa Imlek identik dengan hujan?”. Secara logika ini fenomena alam. Di Tiongkok, Imlek ini bertepatan dengan peralihan salju menjadi hujan di awal musim semi," ucap Olivia, Selasa (17/2).
Sementara di Indonesia, Perayaan Tahun Baru Imlek kerap bertepatan dengan puncak musim penghujan, seperti 2577 Kongzili Tahun Kuda Api ini yang jatuh pada tanggal 17 Februari 2026.
"Meski begitu bagi masyarakat Tionghoa, hujan adalah simbol 'banjir rezeki'. Alih-alih mengeluh karena basah, hujan justru disambut dengan syukur sebagai energi positif yang turun dari langit," imbuhnya.
Bagi masyarakat awam, Imlek juga dianggap identik dengan keramaian barongsai, lampion merah dan emas, pernak-pernik, serta tradisi bagi-bagi angpao (hóngbāo) kepada keluarga dan kerabat.
Padahal, esensi Imlek bukan sekedar perayaan budaya, melainkan sebuah titik balik, memperbaiki relasi, dan simfoni pergantian musim yang membawa pesan mendalam tentang pembaruan hidup.
"Sama halnya dengan perayaan Idul Fitri bagi umat Muslim atau perayaan Tahun Baru Internasional, Imlek adalah transisi orang Tionghoa, momen untuk menutup lembaran lama dan memulai siklus yang baru," ucap Olivia.
Di sisi lain, Tetua Kampung Pecinan Surabaya, Dony Tjong, menjelaskan bahwa menjelang perayaan Imlek, umat Konghucu melakukan berbagai tradisi dan sembahyang leluhur atau "Ci’ Ye’ Pang".
“Tradisi ini memberi sesaji kepada arwah yang telah meninggal dunia, baik yang meninggal wajar maupun tidak. Jadi kalau leluhur datang, dipercaya pasti memberikan yang terbaik untuk anak cucunya," ucapnya.
Selama Ci’ Ye’ Pang, turunnya hujan dianggap pertanda para dewa naik melaporkan perbuatan manusia kepada Tuhan, sekaligus membersihkan alam dari segala dosa dan keburukan yang terjadi sepanjang tahun lalu.
“Setelah Perayaan Imlek selesai, dewa akan turun ke bumi untuk kembali melaksanakan tugasnya, dan pada saat itu hujan akan turun lagi untuk membersihkan alam,” tukas Suk Dony, sapaan karibnya. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
