Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Juni 2025 | 21.22 WIB

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Mengenal Hari Raya Gereja Katolik Sedunia dan Salah Satu Tokoh Paling Bertanggung Jawab Atasnya

Ilustrasi tubuh dan darah kristus (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi tubuh dan darah kristus (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Dalam Kalender Liturgi yang diikuti oleh Gereja Katolik, akan terlihat banyak hari raya yang tentunya tidak tercantum pada kalender biasa. Salah satunya adalah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, atau Pesta Corpus Christi. 

Perayaan ini dilaksanakan untuk menghormati Ekaristi, ritual yang biasa dilakukan pada setiap ibadah Gereja Katolik. 

Dilansir dari Ensiklopedia Britannica, perayaan ini dapat dirayakan pada hari yang berbeda, tergantung dengan gerejanya. Ibadah ini dapat dilaksanakan pada hari Kamis setelah Hari Minggu Tritunggal Mahakudus, atau pada hari Minggu setelahnya. 

Sejarah 

Perayaan ini dimulai pada tahun 1246 oleh Uskup Robert de Torote dari Liege. Ia memulainya setelah dibujuk oleh Santa Juliana, yang pada saat itu masih menjadi kepala biara di Mont Cornillon, setelah mendapatkan penglihatan.

Kisah penglihatan tersebut baru tersebar pada tahun 1261, ketika Jacques Pantaleon, yang sebelumnya adalah diakon agung di Liege, menjadi Paus Urbanus IV. 

Dilansir dari Hallow, Paus Urbanus IV kemudian melembagakan Pesta Corpus Christi pada tahun 1264 melalui bulla kepausan, Transiturus de hoc mundo

Santa Juliana merahasiakan wahyu yang ia dapatkan ini selama dua puluh tahun, hingga akhirnya ia menceritakannya kepada dua biarawati lainnya dan serang imam setelah menjadi kepala biara. 

Setelah hari raya tersebut ditetapkan pada tahun 1264, Paus Urbanus IV menugaskan dokter gereja St. Thomas Aquinas untuk menyusun teks-teks yang kemudian digunakan untuk Ibadat Liturgi Tubuh dan Darah Kristus. 

Teks-teks ini termasuk Sacris Solemnis, Panis Angelicus, Adoro Te Devote, Pange Lingua dan O Salutaris. 

Santa Juliana

Dilansir dari Catholic Insight, salah satu tokoh paling penting dalam asal muasal liturgi ini adalah seorang perempuan bernama Juliana. 

Juliana de Cornillon, yang juga dikenal sebagai Juliana dari Liege, lahir di Belgia sekitar tahun 1191-1192. 

Di Liege dulunya terdapat sekelompok perempuan yang berdedikasi untuk melakukan pemujaan ekaristi. Mereka dibimbing oleh beberapa imam dan tinggal bersama. 

Pada umur lima tahun, Juliana dan saudarinya, Agnes, kehilangan kedua orang tuanya. Mereka kemudian tinggal bersama para biarawati Agustinian di Mont Cornillon. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore