
Ilustrasi tubuh dan darah kristus (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Dalam Kalender Liturgi yang diikuti oleh Gereja Katolik, akan terlihat banyak hari raya yang tentunya tidak tercantum pada kalender biasa. Salah satunya adalah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, atau Pesta Corpus Christi.
Perayaan ini dilaksanakan untuk menghormati Ekaristi, ritual yang biasa dilakukan pada setiap ibadah Gereja Katolik.
Dilansir dari Ensiklopedia Britannica, perayaan ini dapat dirayakan pada hari yang berbeda, tergantung dengan gerejanya. Ibadah ini dapat dilaksanakan pada hari Kamis setelah Hari Minggu Tritunggal Mahakudus, atau pada hari Minggu setelahnya.
Sejarah
Perayaan ini dimulai pada tahun 1246 oleh Uskup Robert de Torote dari Liege. Ia memulainya setelah dibujuk oleh Santa Juliana, yang pada saat itu masih menjadi kepala biara di Mont Cornillon, setelah mendapatkan penglihatan.
Kisah penglihatan tersebut baru tersebar pada tahun 1261, ketika Jacques Pantaleon, yang sebelumnya adalah diakon agung di Liege, menjadi Paus Urbanus IV.
Dilansir dari Hallow, Paus Urbanus IV kemudian melembagakan Pesta Corpus Christi pada tahun 1264 melalui bulla kepausan, Transiturus de hoc mundo.
Santa Juliana merahasiakan wahyu yang ia dapatkan ini selama dua puluh tahun, hingga akhirnya ia menceritakannya kepada dua biarawati lainnya dan serang imam setelah menjadi kepala biara.
Setelah hari raya tersebut ditetapkan pada tahun 1264, Paus Urbanus IV menugaskan dokter gereja St. Thomas Aquinas untuk menyusun teks-teks yang kemudian digunakan untuk Ibadat Liturgi Tubuh dan Darah Kristus.
Teks-teks ini termasuk Sacris Solemnis, Panis Angelicus, Adoro Te Devote, Pange Lingua dan O Salutaris.
Santa Juliana
Dilansir dari Catholic Insight, salah satu tokoh paling penting dalam asal muasal liturgi ini adalah seorang perempuan bernama Juliana.
Juliana de Cornillon, yang juga dikenal sebagai Juliana dari Liege, lahir di Belgia sekitar tahun 1191-1192.
Di Liege dulunya terdapat sekelompok perempuan yang berdedikasi untuk melakukan pemujaan ekaristi. Mereka dibimbing oleh beberapa imam dan tinggal bersama.
Pada umur lima tahun, Juliana dan saudarinya, Agnes, kehilangan kedua orang tuanya. Mereka kemudian tinggal bersama para biarawati Agustinian di Mont Cornillon.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
