
Ilustrasi perempuan hindu yang sedang sembahyang dan berdoa. (Freepik)
JawaPos.com – Bagi sebagian perempuan dengan agama Hindu, datang bulan atau menstruasi kerap menimbulkan pertanyaan: apakah dalam kondisi seperti itu mereka tetap bisa melakukan sembahyang?
Pertanyaan mengenai boleh tidaknya perempuan yang sedang datang bulan atau menstruasi sembahyang, terutama di pura, masih menjadi perbincangan di kalangan umat Hindu.
Tidak sedikit remaja perempuan Hindu yang merasa ragu-ragu untuk menjalankan kewajiban spiritual saat mengalami menstruasi, karena adanya anggapan bahwa kondisi tersebut dianggap ‘tidak suci’.
Dalam kehidupan spiritual umat Hindu, kesucian menjadi bagian penting dalam menjalankan persembahyangan. Namun demikian, apakah benar kondisi menstruasi sepenuhnya melarang perempuan untuk bersembahyang? Dan jika boleh, bagaimana tata cara yang tepat sesuai ajaran Hindu?
Dilansir dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat dan Dinas Kebudayaan Buleleng, Rabu (9/4), dijelaskan bahwa perempuan dalam keadaan haid tetap dapat melakukan persembahyangan, namun dengan batasan-batasan tertentu sesuai ajaran agama Hindu.
Makna Cuntaka dalam Ajaran Hindu dan Kaitannya dengan Menstruasi
Dalam Hindu, keadaan menstruasi disebut sebagai cuntaka, yaitu kondisi di mana seseorang dianggap tidak suci secara jasmani dan rohani karena suatu sebab, seperti kematian, kelahiran, atau menstruasi.
Cuntaka dianggap sebagai fase sementara di mana seseorang disarankan untuk tidak memasuki area suci seperti pura atau sanggah.
Larangan ini bukan karena perempuan dianggap hina atau tercela, tetapi karena saat menstruasi, tubuh perempuan sedang dalam kondisi yang tidak stabil, baik secara fisik maupun emosional.
Rasa nyeri, perubahan hormon, dan gangguan konsentrasi menjadi alasan mengapa mereka disarankan tidak sembahyang di tempat suci.
Ketua PHDI Bangli, I Nyoman Sukra, menyatakan bahwa larangan ini bersifat kontekstual, bukan mutlak, sebab dalam ajaran Hindu sendiri terdapat fleksibilitas dalam cara menjalankan persembahyangan.
Dua Jalur Memuja Hyang Widhi: Niwerti Marga dan Prawerti Marga
Dalam agama Hindu dikenal dua jalur pemujaan kepada Hyang Widhi, yakni Niwerti Marga dan Prawerti Marga. Prawerti Marga adalah bentuk pemujaan eksternal seperti datang ke pura atau sanggah, sedangkan Niwerti Marga adalah pemujaan secara internal, yaitu dengan melakukan manasa japa atau doa dalam hati.
Perempuan yang sedang dalam keadaan cuntaka, termasuk karena haid, disarankan memilih jalur Niwerti Marga. Mereka tetap bisa sembahyang, misalnya melaksanakan Tri Sandhya di kamar pribadi, ruang kerja, atau ruang kelas, tanpa perlu mengunjungi tempat suci.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
