Puluhan warga Tionghoa mengikuti ritual Toa Pek Kong Naik atau Sang Sin menjelang perayaan Imlek Cap Jie Gwee 24, 2575 di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (23/1/2025). (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
JawaPos.com – Imlek bukan hanya perayaan Tahun Baru Tionghoa, tetapi juga simbol akulturasi budaya yang kaya akan makna. Perjalanan tradisi ini di Indonesia mencerminkan dinamika sejarah, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya.
Pada 1946, Presiden Soekarno menetapkan Imlek sebagai salah satu hari raya masyarakat Tionghoa melalui Penetapan Pemerintah No. 2/OEM-1946. Langkah ini menjadi bentuk penghormatan terhadap keberagaman budaya pascakemerdekaan.
Namun, perjalanan tradisi ini tidak selalu mulus. Dari masa kemerdekaan hingga era Orde Baru, perayaan Imlek mengalami berbagai tantangan.
Di bawah Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, perayaan budaya Tionghoa, termasuk Imlek, dilarang di ruang publik. Masyarakat Tionghoa hanya bisa merayakannya secara tertutup di lingkup keluarga.
Meski demikian, semangat menjaga tradisi tetap hidup. Generasi penerus terus mempertahankan nilai-nilai Imlek, meskipun harus melewati masa-masa penuh pembatasan.
Era Reformasi membuka kembali ruang bagi tradisi Tionghoa. Pada tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan terhadap budaya Tionghoa melalui Keputusan Presiden No. 16 Tahun 2000. Langkah ini disusul dengan penetapan Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif.
Pada 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, menegaskan penerimaan budaya Tionghoa sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Imlek kini menjadi perayaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Berbagai tradisi, seperti pemberian angpao, tarian barongsai, dan konsumsi makanan khas seperti kue keranjang, mencerminkan harmoni antara budaya Tionghoa dan lokal.
Selain itu, tradisi seperti membersihkan rumah dan ziarah ke makam leluhur mencerminkan nilai-nilai spiritual dan penghormatan kepada orang tua.
Imlek kini tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya nasional. Dukungan pemerintah dalam mengadakan acara budaya Imlek menunjukkan penghormatan terhadap keberagaman.
Sejarah Imlek di Indonesia adalah perjalanan dari larangan menuju penerimaan. Tradisi ini menjadi simbol harmoni budaya, toleransi, dan kebersamaan yang terus memperkaya mozaik budaya bangsa. Dengan melestarikan Imlek, Indonesia menunjukkan komitmen untuk menghargai setiap elemen keberagaman yang ada.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
