Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 November 2023 | 16.16 WIB

Jadi Ikon dan Filsafah Hidup Masyarakat Aceh, Filolog Gelar Pameran Manuskrip Rempah di Abad ke-16

Ragam rempah Aceh yang dipamerkan dalam pameran "Rempah dalam Manuskrip Aceh" yang diadakan di Rumoh Manuskrip Aceh, 4-12 November 2023, di Banda Aceh, Rabu (8/11). (ANTARA/Nurul Hasanah). - Image

Ragam rempah Aceh yang dipamerkan dalam pameran "Rempah dalam Manuskrip Aceh" yang diadakan di Rumoh Manuskrip Aceh, 4-12 November 2023, di Banda Aceh, Rabu (8/11). (ANTARA/Nurul Hasanah).

JawaPos.com –Manuskrip keberadaan rempah Aceh sejak abad 16 dipamerkan oleh Filolog Aceh, Tarmizi Abdul Hamid.

Manuskrip mengenai keberadaan rempah Aceh di abad 16 ini, ditampilkan dalam perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8, mulai 4-12 November di rumah manuskrip Aceh.

Menurut Cek Midi atau sapaan akrab Tarmizi, mengatakan bahwa pemeran ini ditujukan untuk mengedukasi rempah Aceh kepada masyarakat.

Cek Midi mengungkapkan bahwa kisah dan alur perjalanan rempah ini banyak terekam dalam manuskrip kuno Aceh, Sehingga tidak hanya sebatas produk herbal dan bumbu masakan, tetapi rempah juga sebagai ikon dan falsafah hidup masyarakat Aceh.

"Rempah terekam banyak pada toponimi dan juga catatan utama di dalam beragam manuskrip. Rempah-rempah yang tertulis di dalam manuskrip merupakan karya pendahulu yang harus dilanjutkan pengetahuannya untuk dikembangkan saat ini," ungkapnya dikutip JawaPos.com dari Antara, Kamis (9/11).

Manuskrip rempah yang juga disebut dengan hasil alam, menjadi kekuatan orang Aceh pada masa kesultanan, yang mana dikatakan dengan rempah tersebut Aceh bisa membangun diplomasi dengan negara asing terutama Turki.

Selain itu, Aceh juga mampu membuat bandar negosiasi dengan pedagang rempah dunia di Pulau Penang, Malaysia, sehingga terbentuknya diplomasi dan kekuatan militer.

Filolog Aceh itu menjelaskan jika rempah sebagai bahan obat-obatan banyak tercantum dalam karangan kitab ulama-ulama Aceh, seperti Kitab Tujul Muluk, Mujarabah, dan kitab lainnya yang membahas rempah sebagai ramuan.

Rakyat Aceh juga percaya bisa makmur hanya dengan rempah saja. "Paru sultan dulu  tidak pernah menggali hasil bumi yang ada di permukaan, seperti emas, batu bara, minyak karena hasil rempah sudah bisa memakmurkan rakyat Aceh malah bisa diekspor dan melakukan hubungan dengan negara asing," Kata Cek Midi.

Ia menambahkan, bahwa manuskrip juga menyebutkan rempah menjadi alat tukar masyarakat Aceh pada zaman dulu. Biasanya masyarakat menukar rempah mereka dengan kertas-kertas berkualitas, dirham, dinar, hingga piring-piring keramik.

"Piring-piring yang terbuat dari keramik itu bukan dibuat oleh orang Aceh, melainkan bangsa lain yang ingin menukarnya dengan rempah," ujar Filolog tersebut.

Namun, kekuatan rempah Aceh saat ini terancam penggerusan lahan yang mulai banyak digunakan untuk perkebunan sawit dan pertambangan. Ini mengakibatkan beberapa rempah Aceh mulai langkah dan sulit ditemukan.

“Saat ini rempah yang paling langka di Aceh adalah kemiri, kulit gaharu, dan cendana, karena keterbatasan lahan yang sudah banyak berubah menjadi perkebunan sawit," ungkap Cek Midi.

Melalui pameran yang digelar Cek Midi berharap PKA-8 bisa menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat Aceh untuk mengembalikan kekuatan rempah yang sudah melemah di abad 21 ini.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore